MATARAM — Di tengah meningkatnya aktivitas erupsi sejumlah gunung api di Indonesia, Gunung Rinjani di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, masih bertahan pada Level II atau Waspada. Badan Geologi mencatat Rinjani bersama Tambora dan Sangeangapi merupakan tiga gunung api di NTB yang berstatus sama.
Status Waspada ini berarti aktivitas vulkanik Rinjani berada di atas tingkat normal, meskipun hingga saat ini tidak tercatat mengalami erupsi seperti gunung-gunung lain yang tengah bergejolak.
PVMBG merekomendasikan masyarakat, wisatawan, dan pendaki untuk tidak melakukan aktivitas atau mendekati kawasan dalam radius 1,5 kilometer dari kawah utama Gunung Rinjani. Pusat aktivitas vulkanik gunung ini berada di kaldera Segara Anak.
Di dalam kaldera tersebut terdapat Gunung Barujari yang dalam catatan sejarah beberapa kali menjadi pusat erupsi Rinjani. Rekomendasi ini dikeluarkan sebagai langkah antisipasi terhadap potensi bahaya yang mungkin timbul.
Sementara itu, Badan Geologi melaporkan lima gunung api menunjukkan aktivitas erupsi yang menonjol, yaitu Anak Krakatau, Gunung Ibu, Semeru, Lewotobi Laki-laki, dan Ili Lewotolok. Aktivitas ini terpantau meningkat dalam beberapa hari terakhir.
Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda tercatat mengalami letusan berulang dengan kolom erupsi setinggi 200 hingga 400 meter di atas puncak. Gunung yang berada pada Level III atau Siaga ini juga terekam mengalami puluhan gempa hembusan serta tremor menerus.
Di Maluku Utara, Gunung Ibu di Kabupaten Halmahera Barat kembali meletus dengan kolom abu vulkanik mencapai sekitar 1.000 meter di atas puncak. Erupsi serupa juga terjadi sehari sebelumnya dengan kolom abu sekitar 800 meter.
Gunung Semeru di Jawa Timur juga mengalami erupsi dengan kolom abu sekitar 500 meter di atas puncak. Dalam pemantauan PVMBG periode 13 hingga 19 Agustus 2026, erupsi Semeru tercatat terjadi setiap hari dengan kolom abu mencapai hingga sekitar 1.200 meter di atas puncak.
Di Nusa Tenggara Timur, Gunung Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur kembali erupsi dan masih berstatus Level III atau Siaga. Status tersebut diberlakukan Badan Geologi setelah terjadi peningkatan aktivitas vulkanik sejak Mei 2026.
Gunung Ili Lewotolok di Kabupaten Lembata juga menunjukkan peningkatan aktivitas, terutama aliran lava. Kepala Badan Geologi Lana Saria dalam laporannya menyebut zona rekomendasi bahaya diperluas hingga tiga kilometer pada sektor selatan dan tenggara.
“Berdasarkan data pemantauan visual dan instrumental, Gunung Ili Lewotolok menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik, terutama aktivitas aliran lava,” kata Lana Saria dalam laporan Badan Geologi, 19 Agustus 2026.
Masyarakat dan wisatawan diminta untuk terus mengikuti perkembangan aktivitas Gunung Rinjani melalui informasi resmi PVMBG dan aplikasi MAGMA Indonesia. Hal ini penting untuk memastikan keselamatan dan menghindari risiko yang tidak diinginkan.
Hingga saat ini, Gunung Rinjani belum menunjukkan tanda-tanda erupsi seperti gunung api lainnya, namun status Waspada menuntut kewaspadaan semua pihak.