Kekeringan Ekstrem di Lombok Timur Makin Parah, Jerowaru Naik Status Awas, 94 Hari Tanpa Hujan

Penulis: Prayoga Santana  •  Selasa, 25 Agustus 2026 | 15:46:01 WIB
Warga menerima pasokan air bersih dari Polres Lombok Timur dan pemerintah daerah di Desa Sekaroh, Jerowaru, Lombok Timur, Sabtu (15/8/2026).

LOMBOK TIMUR — Kecamatan Jerowaru resmi berstatus Awas kekeringan meteorologis per dasarian II Agustus 2026. Kenaikan level ini terjadi setelah pemetaan sebelumnya pada awal Agustus menempatkan Jerowaru di level Siaga, sementara empat kecamatan lain, yakni Labuhan Haji, Suela, Sukamulia, dan Wanasaba, sudah lebih dulu masuk kategori Awas.

BMKG Stasiun Klimatologi NTB mencatat seluruh lima kecamatan itu kini berada di peringkat tertinggi peringatan dini kekeringan. Kondisi ini menegaskan situasi krisis air di Lombok Timur yang terus memburuk dari pekan ke pekan.

94 Hari Tanpa Hujan di Pos Hujan Swela

Data BMKG menunjukkan Pos Hujan Swela atau Suela mencatat 94 hari berturut-turut tanpa hujan, atau lebih dari tiga bulan. Durasi tersebut melampaui ambang batas 60 hari yang dikategorikan sebagai kekeringan ekstrem berdasarkan klasifikasi hari tanpa hujan.

Forecaster on Duty BMKG Stasiun Klimatologi NTB, Made Budi Setyawan, menyebut peluang hujan di seluruh NTB pada dasarian III Agustus, periode 21-31 Agustus, sangat kecil.

"Potensi hujan di seluruh wilayah NTB pada dasarian III Agustus dicatat sangat kecil dengan peluang di bawah 10 persen," kata Made dalam keterangan resmi BMKG.

El Niño Sangat Kuat Memperparah Musim Kemarau

Kondisi tanpa hujan yang berkepanjangan ini dipicu oleh fenomena El Niño yang terpantau sangat kuat. Monitoring BMKG pada dasarian I Agustus menunjukkan indeks Niño 3.4 mencapai +2,77, level yang menegaskan intensitas fenomena tersebut.

Sebelumnya, BMKG juga telah memprediksi Agustus menjadi salah satu periode puncak musim kemarau 2026. Kombinasi El Niño kuat dan puncak kemarau membuat wilayah NTB, khususnya Lombok Timur, mengalami defisit curah hujan yang signifikan.

Krisis Air Bersih di Jerowaru: Desa Sekaroh dan Seriwe Jadi Prioritas

Dampak kekeringan sudah dirasakan langsung oleh masyarakat. BPBD mencatat Jerowaru, Suela, Montong Gading, dan Pringgabaya sebagai wilayah fokus penanganan krisis air bersih. Di Jerowaru, kebutuhan air paling mendesak berada di Desa Sekaroh dan Seriwe.

Upaya distribusi air bersih telah dilakukan di Desa Sekaroh. Polres Lombok Timur bersama pemerintah daerah menyalurkan air kepada masyarakat pesisir pada 15 Agustus 2026. Warga disebut masih membutuhkan pasokan air secara berkelanjutan selama proses pembangunan jaringan pipa berlangsung.

BMKG Minta Warga Waspadai Risiko Kebakaran dan Kelangkaan Air

BMKG mengingatkan pemerintah daerah dan masyarakat untuk mengantisipasi kelangkaan air bersih serta meningkatnya risiko kebakaran hutan, lahan, dan permukiman selama periode kering. Masyarakat diminta menggunakan air secara bijak serta menghindari pembakaran sampah atau aktivitas lain yang berpotensi memicu kebakaran.

Dengan naiknya status Jerowaru menjadi Awas dan peluang hujan yang masih sangat rendah hingga akhir Agustus, kebutuhan pasokan air bersih di wilayah selatan Lombok Timur berpotensi semakin meningkat. Percepatan pembangunan jaringan pipa dan penambahan armada distribusi air menjadi langkah krusial yang dibutuhkan untuk meredam dampak krisis ini.

Reporter: Prayoga Santana
Sumber: kicknews.today This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top