NUSA TENGGARA BARAT — Penguatan tersebut ditandai dengan pelantikan Pengurus Daerah METI Sulawesi Utara yang digelar di kediaman gubernur, Graha Gubernuran. Pelantikan ini berbarengan dengan penyelenggaraan Renewable Energy Forum 2026 yang mengusung tema "Empowering Future Leaders to Accelerate Indonesia". Forum tersebut menegaskan bahwa keterlibatan pemimpin daerah menjadi kunci utama dalam mendorong adopsi energi bersih di lapangan.
Kehadiran METI di Sulawesi Utara diharapkan menjadi jembatan antara kebijakan nasional dan implementasi di lapangan. Selama ini, potensi EBT di berbagai daerah kerap terkendala oleh kurangnya sinergi antara pemangku kepentingan lokal, pelaku industri, dan penyedia teknologi.
Pertamina NRE, sebagai subholding energi baru terbarukan dari PT Pertamina (Persero), memiliki kepentingan langsung dalam pengembangan proyek-proyek hijau. Dengan adanya pengurus daerah yang solid, proses perizinan, sosialisasi kepada masyarakat, hingga pengembangan rantai pasok energi bersih bisa berjalan lebih cepat dan efisien.
Forum yang digelar bersamaan dengan pelantikan tersebut juga menjadi ajang diskusi bagi para pemimpin muda dan pemangku kepentingan untuk merumuskan langkah konkret. Topik yang mengemuka antara lain soal pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan pemanfaatan potensi panas bumi yang dimiliki Sulawesi Utara.
Dengan ekosistem EBT yang semakin kuat, masyarakat Sulawesi Utara berpotensi mendapatkan akses listrik yang lebih andal dan ramah lingkungan. Bagi industri, kepastian pasokan energi terbarukan menjadi nilai tambah tersendiri, terutama untuk menarik investasi yang mensyaratkan penggunaan energi hijau dalam proses produksi.
Kehadiran pengurus daerah juga memudahkan koordinasi dalam program-program pemberdayaan masyarakat sekitar proyek EBT. Ini penting untuk memastikan bahwa transisi energi tidak hanya berhenti pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga memberikan dampak ekonomi langsung bagi warga setempat.
Langkah Pertamina NRE dan METI ini sejalan dengan target pemerintah meningkatkan bauran energi baru terbarukan secara nasional. Dengan struktur organisasi yang kini hadir hingga ke tingkat provinsi, diharapkan proyek-proyek serupa dapat direplikasi di daerah lain di Indonesia Timur.
Inisiatif ini menegaskan bahwa transisi energi adalah kerja kolektif. Bukan hanya soal membangun pembangkit, tetapi juga membangun kesiapan sumber daya manusia dan kelembagaan di daerah. Sulawesi Utara kini menjadi salah satu contoh bagaimana kolaborasi korporasi dan asosiasi profesi dapat berjalan beriringan untuk mewujudkan masa depan energi yang lebih bersih.