MATARAM — Puluhan guru IPA di Kota Mataram tak sekadar duduk mendengarkan teori dalam pelatihan pengembangan alat peraga sains, Jumat (24/7) pekan lalu. Mereka justru diajak membongkar dan merakit langsung KIT IPA berbasis proyek yang dipadukan dengan pendekatan Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM).
Pelatihan ini merupakan bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Mataram. Tim dosen sengaja memilih MGMP IPA sebagai sasaran karena para gurulah yang setiap hari berhadapan dengan siswa di kelas.
Ketua Tim Pengabdian, Dr. Satutik Rahayu, M.Pd, menegaskan bahwa pembelajaran sains saat ini menuntut guru menghadirkan pengalaman belajar yang kontekstual dan berpusat pada peserta didik. Menurutnya, kendala utama di lapangan bukanlah soal anggaran, melainkan kreativitas.
“Melalui pelatihan ini kami ingin memberikan inspirasi kepada guru bahwa media pembelajaran tidak harus mahal. Dengan kreativitas dan pendekatan STEM, guru dapat mengembangkan KIT IPA yang menarik, mudah digunakan, dan mampu meningkatkan keterampilan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, serta kemampuan memecahkan masalah siswa,” ujar Satutik dalam keterangan tertulis yang diterima Suara NTB.
Tim pengabdian menghadirkan dua narasumber dari Program Studi Pendidikan Fisika Unram, yakni Dr. Kasnawi Al Hadi, M.Si. dan Drs. Sutrio, M.Si. Keduanya didampingi mahasiswa Unram mendampingi peserta selama pelatihan.
Para guru tidak hanya memperoleh pemahaman konseptual. Mereka menyaksikan langsung demonstrasi berbagai KIT IPA, mulai dari cara kerja hingga penerapannya dalam pembelajaran berbasis proyek di kelas. Sesi tanya jawab pun berlangsung cair, terlihat dari antusiasme peserta yang terus bertanya soal modifikasi alat.
Salah seorang peserta mengaku pelatihan semacam ini memberikan pengalaman baru yang sangat bermanfaat. Guru bisa melihat secara langsung bagaimana sebuah KIT IPA dirancang dan digunakan sebagai sarana pembelajaran yang mampu meningkatkan keterlibatan siswa.
Para peserta berharap kegiatan serupa bisa dilaksanakan secara berkelanjutan dengan durasi lebih panjang. Mereka ingin memiliki kesempatan menghasilkan KIT IPA secara mandiri, bukan sekadar melihat demonstrasi.
Menanggapi hal itu, Tim Pengabdian Unram menyampaikan komitmennya untuk terus mendampingi guru melalui program-program lanjutan. Salah satu usulan yang mengemuka dari peserta adalah penyelenggaraan Workshop Pengembangan STEM IPA yang lebih aplikatif.
“Guru bisa merancang, membuat, menguji, dan mengimplementasikan produk pembelajaran STEM sesuai dengan karakteristik materi di sekolah masing-masing,” demikian isi usulan yang tercatat dalam diskusi.