NUSA TENGGARA BARAT — Dalam laporan 10-Q untuk kuartal kedua 2026, Tesla mengungkapkan telah "mengakuisisi perusahaan AI hardware dalam aset acquisition" dengan total nilai US$1,95 miliar — dibayar seluruhnya dalam bentuk saham biasa dan equity awards. Yang menarik, dari jumlah itu hanya US$222 juta yang dialokasikan ke aset nyata: "sebuah paten dan terkait aset teknologi tak berwujud yang telah dikembangkan." Sisanya, US$1,73 miliar, bersifat kontinjen — tergantung pada kondisi layanan tertentu atau pencapaian target penyebaran teknologi.
Praktis, Tesla hanya mengakui 11,4 persen dari total nilai akuisisi sebagai aset berwujud. Ini adalah ciri khas acqui-hire—akuisisi yang sebenarnya bertujuan merekrut tim, bukan membeli aset fisik. Porsi saham kontinjen dirancang untuk mengikat tim yang diakuisisi agar tetap bertahan dan memenuhi target tertentu. Tesla tidak menyebutkan nama perusahaan target, sama seperti ketika pertama kali mengumumkan perjanjian pada April 2026 lalu. Spekulasi pasar menyebut startup chip DensityAI—yang sebagian besar terdiri dari mantan tim Dojo Tesla—sebagai kandidat terkuat, namun tidak ada konfirmasi resmi.
Yang paling mencolok adalah pengakuan Tesla dalam laporan yang sama: "tidak ada beban kompensasi berbasis saham yang terkait dengan performance-based awards yang diakui, karena kondisi kinerja ditentukan tidak mungkin terpenuhi (improbable)." Dengan kata lain, Tesla sendiri menganggap milestone untuk teknologi yang baru dibeli senilai hampir US$2 miliar itu saat ini tidak realistis. Kejujuran semacam ini jarang terlihat dalam akuisisi perusahaan besar.
Akuisisi ini menjadi kelanjutan dari pola Tesla yang sering mengumumkan transaksi multibillion-dollar hanya dengan satu kalimat samar dalam dokumen SEC. Sebelumnya, Tesla juga mengakuisisi saham SpaceX senilai US$2 miliar dengan cara serupa. Situs otomotif Electrek mengkritik praktik ini: untuk perusahaan yang rajin memposting setiap perkembangan robotaxi di X, keheningan soal kemana miliaran dolar saham mengalir sangat mencolok.
Kendati kontroversial, akuisisi ini masuk dalam strategi besar Tesla yang menetapkan 2026 sebagai tahun investasi terbesar. Dana mengalir ke komputasi AI, pabrik semikonduktor di Austin, proyek chip generasi AI5 dan AI6, hingga "megapods" chip yang dipasang di Supercharger untuk memanfaatkan daya listrik jaringan. Bisnis penyimpanan energi Megapack pun diposisikan sebagai infrastruktur AI—SpaceX tercatat membeli US$405 juta Megapack pada paruh pertama 2026 untuk menstabilkan lonjakan daya saat pelatihan AI. Akuisisi tim AI hardware ini menjadi bagian dari teka-teki besar Tesla, meski tidak disebutkan secara gamblang.
Di sisi keuangan, jumlah saham beredar Tesla naik sekitar 198 juta lembar pada semester pertama 2026—diterbitkan untuk "equity incentive awards dan akuisisi"—sementara kompensasi berbasis saham melonjak menjadi US$2,18 miliar, naik 80 persen dibanding tahun sebelumnya. Artinya, Tesla membayar mahal untuk mempertahankan dan mendatangkan talenta AI, namun transparansi soal target dan identitas perusahaan yang diakuisisi masih menjadi tanda tanya besar.