SUMBawa Besar — Luas hutan mangrove yang sudah tertanam di Kabupaten Sumbawa baru mencapai 2.341 hektar. Jumlah itu setara dengan 65 persen dari total lahan potensial yang dimiliki daerah tersebut seluas 5.356 hektar.
Dari total realisasi tersebut, kawasan pesisir Labuhan Mapin di Kecamatan Alas Barat menjadi penyumbang terbesar dengan luasan mencapai 1.496,29 hektar. Sementara itu, wilayah pesisir luar Desa Alas masih menjadi titik dengan luasan mangrove paling rendah, yakni hanya 7,02 hektar.
“Daerah yang masih potensial tetap akan kita maksimalkan. Karena mangrove ini menjadi tumbuhan yang paling tinggi menyerap karbon dibandingkan jenis tumbuhan yang lain,” kata Kadis LH Kabupaten Sumbawa, Pipin Shakti Bitongo, Kamis (23/7).
Pemerintah mengakui ada sejumlah kendala dalam proses penanaman mangrove. Tantangan utama yang dihadapi di lapangan adalah banyaknya hewan ternak milik warga yang dilepas liarkan sehingga bibit mangrove yang baru ditanam langsung habis dimakan.
Meski begitu, upaya rehabilitasi terus berjalan. DLH Sumbawa menargetkan seluruh lahan potensial dapat ditanami secara bertahap, mengingat fungsi mangrove tidak hanya untuk ekologi tetapi juga ekonomi.
Pipin menyebutkan, hutan mangrove yang terus diperluas ini nantinya bisa dimanfaatkan melalui mekanisme perdagangan karbon global. Potensi lahan yang sangat besar disebutnya memungkinkan Kabupaten Sumbawa menjadi daerah penghasil kredit karbon.
“Abrasi pantai ini bisa kita cegah dengan penanaman mangrove. Apalagi fungsi mangrove ini jika kita jaga dengan baik bisa menjadi wahana wisata sekaligus sumber penghidupan ekonomi masyarakat,” tukasnya.
Bentangan pesisir Sumbawa yang panjang dinilai menjadi modal utama. Selain menahan abrasi, hutan mangrove yang terawat juga berpotensi menjadi destinasi ekowisata yang bisa menggerakkan ekonomi warga sekitar.