Pertamina Patra Niaga Ajari Anak Pesisir NTB Cinta Budaya dan Lingkungan lewat Sekolah Alam, 1.000 Bibit Mangrove Ditanam

Penulis: Prayoga Santana  •  Kamis, 23 Juli 2026 | 16:11:32 WIB
Puluhan anak pesisir mengikuti kegiatan belajar sejarah dan budaya di Museum Negeri NTB dalam rangka Hari Anak Nasional 2026.

GIRI MENANG — Puluhan anak pesisir yang tergabung dalam Program Sekolah Alam Anak Pesisir mendapatkan pengalaman belajar berbeda pada peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2026. Pertamina Patra Niaga melalui Integrated Terminal (IT) Ampenan mengajak mereka mengenal sejarah dan budaya di Museum Negeri Nusa Tenggara Barat (NTB) pada 12 Juli 2026.

Belajar Sejarah dan Bermain Tradisional

Sebanyak 50 peserta didik diajak menjelajahi jejak sejarah dan warisan lokal NTB bersama Komunitas Sanggar Jalan Pulang. Kegiatan ini dirancang untuk memperkuat karakter dan wawasan kebangsaan anak-anak pesisir.

Usai tur museum, anak-anak mengikuti berbagai permainan tradisional yang difasilitasi oleh Komunitas Alo Main. Aktivitas ini menjadi media pembelajaran untuk menumbuhkan kreativitas, kerja sama, dan sportivitas di tengah gempuran era digital.

Aksi Nyata: 1.000 Bibit Mangrove di Pesisir

Puncak peringatan HAN digelar pada 19 Juli 2026 di kawasan pesisir Desa Cendi Manik. Anak-anak bersama fasilitator dan relawan mahasiswa, termasuk peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Gadjah Mada (UGM), menanam 1.000 bibit mangrove.

Melalui aksi ini, anak-anak mendapat pemahaman langsung tentang fungsi ekologis mangrove sebagai pelindung abrasi dan habitat biota laut. Pengalaman berkontribusi dalam pelestarian lingkungan sejak usia dini menjadi inti dari program ini.

Investasi Terbaik untuk Generasi Muda

Integrated Terminal Manager Ampenan, Asep Bagja Firdaus, mengatakan Hari Anak Nasional menjadi momentum memperkuat komitmen Pertamina dalam menciptakan ruang belajar yang inklusif dan berkelanjutan.

“Kami meyakini bahwa investasi terbaik adalah investasi pada generasi muda. Melalui Program Sekolah Alam Anak Pesisir, kami menghadirkan pengalaman belajar yang tidak hanya memperkaya wawasan anak-anak terhadap sejarah dan budaya, tetapi juga menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan,” ujar Asep dalam keterangan tertulis.

Ia berharap kegiatan ini mampu membentuk generasi pesisir yang berkarakter, berdaya saing, serta memiliki tanggung jawab terhadap keberlanjutan lingkungan di masa depan.

Pendekatan 3E: Edukasi, Ekologi, Ekonomi

Project Manager Komunitas Sanggar Jalan Pulang, Zahit Idris, menambahkan bahwa pembelajaran yang mengintegrasikan edukasi budaya dan lingkungan memberikan pengalaman lebih bermakna. “Anak-anak belajar lebih efektif ketika mereka mengalami secara langsung. Museum menjadi ruang untuk mengenal identitas dan sejarah, sementara kegiatan penanaman mangrove mengajarkan pentingnya menjaga alam,” ungkap Zahit.

Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, menegaskan bahwa program Sekolah Alam Anak Pesisir merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam mencetak generasi muda yang peduli lingkungan dan budaya.

“Momentum Hari Anak Nasional menjadi pengingat bahwa investasi sosial tidak hanya diwujudkan melalui peningkatan kualitas pendidikan, tetapi juga dengan menanamkan nilai-nilai kepedulian terhadap lingkungan dan pelestarian budaya sejak dini,” ujar Ahad.

Program Sekolah Alam Anak Pesisir dikembangkan bersama Komunitas Sanggar Jalan Pulang melalui pendekatan 3E (Edukasi, Ekologi, dan Ekonomi). Fokus program ini adalah peningkatan kualitas pendidikan anak-anak pesisir melalui pembelajaran berbasis potensi lokal, pelestarian lingkungan, serta penguatan karakter untuk mendukung pembangunan berkelanjutan.

Reporter: Prayoga Santana
Sumber: radarlombok.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top