NUSA TENGGARA BARAT — Timeline produksi massal tiga produk andalan Tesla kembali molor. Dalam laporan pemegang saham kuartal II-2026 yang dirilis Rabu (15/7), perusahaan asal Austin, Texas itu secara resmi menghapus target "volume production" untuk Cybercab, truk listrik Semi, dan solusi penyimpanan energi komersial Megapack 3 dari jadwal tahun ini.
Padahal, pada Januari 2026, Tesla masih menyatakan ketiga produk tersebut akan mencapai produksi massal pada 2026. Kini, Cybercab baru mulai diproduksi terbatas di pabrik Austin awal tahun ini, sementara lini produksi Semi dan robot Optimus masih dalam tahap pembangunan.
Keputusan ini tak lepas dari kondisi keuangan yang menekan. Pendapatan Tesla di kuartal II-2026 memang naik 26% menjadi USD 28,2 miliar (sekitar Rp 465 triliun) dibanding periode yang sama tahun lalu. Namun, kenaikan itu tak mampu menutupi biaya operasional yang membengkak 47% menjadi USD 4,3 miliar (sekitar Rp 70,9 triliun).
Akibatnya, laba bersih Tesla justru turun 5% menjadi USD 1,1 miliar (sekitar Rp 18,1 triliun). Arus kas bebas perusahaan juga negatif USD 1 miliar (sekitar Rp 16,5 triliun), berbanding terbalik dengan posisi positif USD 1,44 miliar di kuartal sebelumnya. CFO Tesla, Vaibhav Taneja, sebelumnya sudah memperingatkan bahwa arus kas negatif akan berlangsung hingga akhir tahun akibat belanja pengembangan produk baru.
Tesla mengakui bahwa kunci produksi massal Cybercab dan Semi ada pada peningkatan produksi baterai 4680 buatan sendiri. Perusahaan belum memberikan alasan spesifik di balik penundaan Megapack 3, tapi tantangan terbesar justru datang dari robot Optimus.
"Ini akan menjadi produk tersulit yang pernah kami buat di Tesla dalam hal skala manufaktur, karena semua komponen di robot ini benar-benar baru," ujar Elon Musk dalam konferensi pers, Rabu (15/7). Pernyataan ini sekaligus menjelaskan mengapa Tesla juga menghapus target "volume production" Optimus dari laporan kuartal sebelumnya.
Di tengah kabar buruk tersebut, bisnis inti Tesla—penjualan dan penyewaan EV—justru menunjukkan perbaikan signifikan. Pendapatan otomotif mencapai USD 20,5 miliar (sekitar Rp 338 triliun), naik dari USD 16,6 miliar di periode yang sama tahun lalu. Tesla berhasil mengirimkan lebih dari 480.000 unit kendaraan di kuartal II-2026, meningkat 120.000 unit dari kuartal sebelumnya.
Rekor penjualan terjadi di sejumlah negara di luar AS, termasuk Korea Selatan, Australia, Jepang, Taiwan, Thailand, Filipina, dan Chile. Sementara itu, pendapatan dari penyimpanan energi dan panel surya juga naik 13% menjadi USD 3,1 miliar (sekitar Rp 51,1 triliun).
Layanan berlangganan Full Self-Driving (Supervised) mencatat 1,48 juta pelanggan, naik 56% dibanding tahun lalu. Namun, margin kotor Tesla justru tertekan. Pendapatan operasional perusahaan merosot 57% menjadi hanya USD 398 juta (sekitar Rp 6,5 triliun), turun dari USD 932 juta di kuartal II-2025.
Untuk membiayai ambisi AI dan robotikanya, Tesla mengalokasikan belanja modal sebesar USD 25 miliar pada 2026—tiga kali lipat dari pengeluaran historisnya. Langkah ini termasuk menghentikan produksi Model S dan Model X di pabrik Fremont, California, pada musim semi lalu untuk memberi ruang bagi lini perakitan robot Optimus.
Layanan Robotaxi Tesla juga mulai diperluas ke kota-kota baru, meski dengan jumlah armada yang masih terbatas. Perusahaan terus mendorong pemilik mobil untuk berlangganan FSD Supervised, dengan target akhirnya membuat sistem tersebut mampu menangani seluruh situasi berkendara tanpa campur tangan manusia.