MATARAM — Petani di Lombok Barat kini tak lagi harus berebut air saat musim tanam tiba. Bendungan Meninting, yang diresmikan Presiden Prabowo Subianto pada Jumat pekan lalu, dipastikan mampu memasok air irigasi sepanjang tahun.
Bendungan setinggi 74 meter dengan luas genangan 46,16 hektare ini dibangun sejak 2018 dan menelan anggaran Rp1,473 triliun. Kapasitas tampungnya mencapai 9,91 juta meter kubik, cukup untuk mengairi 1.600 hektare sawah melalui jaringan irigasi sepanjang 26 kilometer.
Menteri PU Dody Hanggodo mengatakan, dampak langsung bendungan ini terasa pada produktivitas pertanian. “Dulu sebelum ada Bendungan Meninting hanya bisa satu kali tanam, saat ini sudah bisa menjadi tiga kali musim tanam,” kata Dody dalam keterangan resmi yang dikutip dari laman Kementerian PU, Kamis (16/7/2026).
Ia menambahkan, bendungan ini juga menyediakan air baku sebesar 150 liter per detik untuk kebutuhan domestik warga Lombok Barat. Pasokan itu disebut telah meredakan ketegangan horizontal yang selama ini terjadi antarpetani. “Khusus untuk Bendungan Meninting ini sendiri, bendungan ini telah bisa mengurangi konflik horizontal yang selama ini sebelum bendungan ini ada selalu terjadi antara para petani dari Lombok Barat khususnya karena mereka selalu berebut air manakala musim tanam tiba,” ujar Dody.
Selain untuk irigasi dan air baku, Bendungan Meninting dirancang sebagai infrastruktur multifungsi. Bendungan ini dilengkapi Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) berkapasitas 0,8 megawatt serta Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 9,23 megawatt. Potensi energi baru terbarukan ini diharapkan mendukung kebutuhan listrik di area sekitar bendungan.
Dari sisi mitigasi bencana, bendungan ini mampu mereduksi genangan banjir hingga 59 hektare. Fungsi pengendalian banjir itu menjadi nilai tambah di tengah intensitas hujan tinggi yang kerap melanda Lombok Barat.
Menteri Dody menegaskan, peresmian Bendungan Meninting merupakan langkah nyata mewujudkan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya dalam memperkuat ketahanan pangan dan ketahanan air nasional. “Bendungan ini mampu menampung sampai dengan hampir 10 juta meter kubik, air dapat dimanfaatkan sepanjang tahun,” jelasnya.
Dengan beroperasinya bendungan ini, sawah tadah hujan di Lombok Barat kini berubah menjadi sawah irigasi teknis. Petani tidak lagi bergantung pada musim, dan produktivitas padi diharapkan meningkat signifikan sepanjang tahun.