Fika Jobs Kantongi Pendanaan Rp 64 Miliar, Hadirkan Platform Rekrutmen Video dengan AI Interview Agent

Penulis: Okta Nugraha  •  Rabu, 24 Juni 2026 | 07:17:01 WIB
Fika Jobs raih pendanaan Rp 64 miliar untuk kembangkan platform rekrutmen video berbasis AI.

NUSA TENGGARA BARAT — Fika Jobs, startup rekrutmen asal Stockholm, mengumumkan perolehan pendanaan pre-seed senilai 4 juta dolar AS pada Selasa (15/4). Putaran ini dipimpin oleh Luminar Ventures, dengan partisipasi dari Alliance VC serta dua pendiri King—pengembang game Candy Crush—Sebastian Knutsson dan Riccardo Zacconi.

Proses Rekrutmen ala TikTok Bertemu LinkedIn

Platform ini dirancang untuk mengubah cara perusahaan menilai kandidat. Alih-alih hanya mengandalkan resume, Fika Jobs meminta pelamar mengikuti wawancara video singkat selama sekitar 10 menit dengan agen AI yang didukung model Gemini buatan Google. Hasil wawancara kemudian diubah otomatis menjadi klip-klip video pendek yang terorganisir dalam satu profil kandidat.

Pendekatan ini, menurut sang CEO Jakob Dubois, lahir dari pengalaman pahit saat merekrut untuk startup sebelumnya. "Kami hampir melewatkan seorang kandidat karena resumenya tidak menonjol. Setelah berbicara dengannya, kegigihan dan ambisinya langsung terlihat—persis tipe orang yang kami cari," ujar Dubois kepada TechCrunch.

Model Bisnis: Gratis untuk Pelamar, Komisi untuk Perekrut

Bagi pencari kerja, layanan ini gratis. Perusahaan tidak dikenakan biaya di muka, namun Fika Jobs mengambil komisi 10 persen dari gaji tahun pertama kandidat yang berhasil direkrut. Angka ini lebih rendah dibanding biaya rekrutmen tradisional yang biasanya berkisar 20 hingga 30 persen.

Saat ini, lebih dari 100 perusahaan sudah masuk daftar tunggu. Sejumlah 50 perusahaan lain telah menguji coba platform ini, termasuk Plenty Labs, SICS.ai, Kognity, dan Rebtel.

Potensi dan Risiko Bias yang Mengintai

Pendekatan video-first dinilai sangat membantu menilai kemampuan komunikasi dan kecocokan budaya kerja sejak awal, terutama bagi kandidat muda atau dari latar belakang non-tradisional yang potensinya tidak selalu terlihat di atas kertas. Namun, sistem ini juga membuka celah diskriminasi. Ketika perekrut bisa melihat ras, usia, gender, penampilan fisik, hingga aksen kandidat sebelum mengevaluasi kualifikasi, risiko bias justru meningkat—sesuatu yang coba diminimalkan oleh metode penyaringan buta (blind screening).

Rencana Rilis dan Ekspansi

Fika Jobs akan membuka akses awal untuk kandidat pekan ini, dengan peluncuran publik yang ditargetkan pada musim gugur 2025 mendatang. Ekspansi akan dimulai dari Swedia sebelum merambah ke negara lain. Tim Fika saat ini masih kecil, namun ditargetkan mencapai 10 karyawan pada akhir tahun.

Platform ini bisa menjadi solusi alternatif bagi perusahaan yang kesulitan menemukan bakat hanya dari lembaran resume, terutama di era di mana AI justru membanjiri meja rekrutmen dengan lamaran dalam jumlah besar.

Reporter: Okta Nugraha
Sumber: techcrunch.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top