MATARAM — Sekretaris Daerah (Sekda) Nusa Tenggara Barat (NTB), Abul Chair, menyoroti kebiasaan buruk masyarakat yang masih menganggap sungai sebagai jalur pembuangan sampah praktis. Ia menyebut praktik ini sebagai bagian dari penyebab utama kerusakan lingkungan di daerah tersebut.
“Sering kali sampah kita titipkan di sungai dan berharap bisa sampai sendiri ke TPA. Cara berpikir seperti ini justru menjadi bagian dari penyebab kerusakan lingkungan,” ujar Abul Chair dalam keterangan resmi yang diterima di Mataram, Minggu (21/6/2026).
Tak hanya soal sampah, Abul Chair juga menyoroti praktik eksploitasi lingkungan yang kerap dibungkus dengan dalih pembangunan. Menurutnya, pembangunan fisik tidak boleh menjadi alasan untuk mengorbankan kelestarian alam.
“Jangan sampai kerusakan lingkungan dibenarkan atas nama pembangunan. Menebang pohon tanpa upaya pemulihan dan menggantinya dengan beton bukanlah pembangunan yang berkelanjutan,” tegasnya.
Dalam peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, Sekda NTB menekankan urgensi penanganan isu lingkungan. Ia menolak sikap menunda-nunda yang justru memperparah kondisi alam.
“Sekarang, bukan nanti atau besok. Lingkungan tidak memberi kesempatan kepada kita untuk terlambat. Ketika kita terlambat menyelamatkan lingkungan, dampaknya bisa menjadi kerusakan yang tidak dapat diperbaiki kembali,” katanya.
Abul Chair mengajak seluruh elemen masyarakat—termasuk pemangku kepentingan, komunitas lingkungan, masyarakat adat, dan warga NTB pada umumnya—untuk bergerak bersama menjaga kelestarian alam.
“Semangat menjaga lingkungan harus terus kita rawat demi masa depan NTB yang lebih baik,” pungkasnya.