NUSA TENGGARA BARAT — "Kita sudah berkomitmen dan akan menyalurkan dalam waktu dekat, totalnya adalah mencapai 110 ribu ton. Satu bulan ini akan kami gelontorkan 110 ribu ton, yang mana 75 ribu ton adalah beras premium," ujar Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani usai Operasi Pasar di Pasar Jatinegara, Sabtu (5/9).
Rantai Pasok Ritel Modern yang Terdampak
Ritel modern yang tercatat memesan stok meliputi Indomaret, Alfamart, Tip Top, Indogrosir, hingga Hero. Pengiriman tahap awal menyasar SP2KP dan jaringan retail modern agar rak-rak kosong segera terisi kembali. Rizal memastikan proses distribusi tidak akan molor dari jadwal yang telah disepakati.
"Kemarin sore kami langsung melaksanakan rapat koordinasi dan insya Allah mulai minggu ini langsung kami tindak lanjuti untuk disalurkan ke seluruh retail-retail modern dan pasar-pasar SP2KP," pungkasnya.
Beras BeeFood Jadi Andalan Tekan Inflasi
Untuk mengisi segmen premium, Bulog akan mengandalkan merek BeeFood yang dijual dengan harga Rp74.500 per kemasan 5 kilogram. Harga ini dipatok untuk mengantisipasi gejolak kenaikan harga di tingkat konsumen, sekaligus menjaga daya beli masyarakat kelas menengah yang selama ini bergantung pada pasokan ritel modern.
Langkah ini dinilai krusial mengingat ritel modern menjadi kanal distribusi utama bagi konsumen perkotaan. Jika kekosongan stok berlarut, tekanan inflasi bahan pangan bisa semakin berat. Adapun beras medium yang turut digelontorkan diharapkan menjadi penyangga bagi segmen konsumen yang lebih sensitif terhadap perubahan harga.
Mengapa Stok Premium Menghilang dari Pasaran?
Kelangkaan ini sebelumnya dipicu oleh pergeseran pola distribusi gabah di tingkat petani. Beras premium produksi penggilingan besar lebih banyak terserap kanal industri atau pasar tradisional dengan harga lebih kompetitif. Akibatnya, ritel modern yang mensyaratkan standar kualitas ketat mengalami kekosongan pasokan dalam beberapa pekan terakhir.
Dengan injeksi 110 ribu ton, Bulog sekaligus menjalankan fungsi stabilisasi harga pangan. Pasokan yang masuk ke ritel modern diharapkan menjadi acuan harga baru bagi pedagang pasar tradisional, sehingga disparitas harga antar kanal distribusi bisa menyempit. Pekan depan menjadi penentu apakah skema ini berjalan mulus atau perlu penyesuaian kuota.