MATARAM — Ratusan warga kompleks perumahan di Pagutan Permai, Mataram, memadati lapangan sejak pagi untuk mendapatkan bahan pokok dengan harga di bawah pasaran. Gerakan Pangan Murah (GPM) yang digelar Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTB ini menjadi seri pembuka dari empat agenda intervensi pasar yang dijadwalkan sepanjang bulan Agustus.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTB, Lalu Mirza Amir Hamzah, menegaskan bahwa operasi pasar temporer bukanlah solusi tunggal. Menurutnya, akar inflasi justru sering kali berasal dari mata rantai konsumsi dan perilaku belanja yang boros di tingkat rumah tangga.
Bibit Cabai Dibagikan, Warga Didorong Mandiri
Berbeda dari pasar murah pada umumnya, kegiatan ini menyertakan pembagian bibit cabai secara gratis. Langkah ini diambil karena cabai menjadi salah satu komoditas penyumbang fluktuasi harga mingguan yang paling signifikan di NTB.
"Kegiatan ini merupakan bentuk intervensi langsung pemerintah daerah. Namun, fokus kami bukan sekadar membagikan komoditas. Kami membagikan bibit cabai agar masyarakat terdorong melakukan budidaya mandiri di lahan pekarangan masing-masing," ujar Lalu Mirza di sela-sela kegiatan, Jumat (16/8/2026).
"Jika skala rumah tangga sudah mandiri, tekanan inflasi di tingkat konsumen bisa kita tekan secara signifikan," sambungnya.
Gerakan Stop Boros Pangan: Benteng Pertahanan Ekonomi Keluarga
Lalu Mirza menyoroti pentingnya efisiensi di meja makan sebagai bagian dari ketahanan pangan berkelanjutan. Edukasi untuk berbelanja sesuai kebutuhan dan memanfaatkan sisa makanan dengan bijak dinilai mampu menjadi tameng utama terhadap pemborosan ekonomi keluarga.
Ia mengimbau masyarakat tidak perlu khawatir terhadap ketersediaan stok menjelang peringatan Maulid Nabi. Pasokan beras di gudang Bulog tercatat melimpah, dan masyarakat diminta tidak terjebak aksi borong atau panic buying.
Efek Domino bagi UMKM Lokal Pagutan
Lurah Pagutan Barat, Irawan Kusumahadi, menilai GPM memberikan dampak berlipat bagi warganya. Selain meringankan beban belanja harian, acara ini menjadi etalase bagi produk-produk UMKM lokal yang biasanya kurang terekspos.
"Harapan kami kegiatan ini bisa berlanjut dari tahun ke tahun karena memberikan manfaat besar. Selain membantu warga memperoleh bahan pangan berharga murah, acara ini menciptakan efek domino bagi UMKM lokal. Produk-produk warga menjadi lebih dikenal dan mendorong minat beli konsumen," ungkap Irawan.
Sinergi antara intervensi pasar, edukasi pola konsumsi, dan pemberdayaan ekonomi warga ini diharapkan menjadi benteng kokoh menjaga stabilitas ekonomi NTB secara berkelanjutan.