Tom's Hardware baru saja merilis pengujian komprehensif yang membedah performa gaming prosesor Intel LGA 1700 saat dipasangkan dengan RAM DDR4 di pertengahan 2026. Hasilnya, rata-rata penurunan frame rate mencapai 14 persen, dan di beberapa judul game seperti Marvel Rivals, angkanya bisa melonjak hingga 25,3 persen pada prosesor sekelas Core i7-14700K.
Mengapa Gamer Indonesia Melirik DDR4 di Tengah Krisis Harga DDR5?
Fenomena ini bukan soal pilihan, melainkan keterpaksaan anggaran. Harga kit DDR5-6000 32GB kini lebih dari dua kali lipat dibandingkan DDR4-3200 32GB. Dengan kondisi harga yang terus naik dan pasokan yang belum stabil, banyak pengguna memilih mempertahankan motherboard LGA 1700 yang sudah ada dan hanya mengganti prosesornya saja.
Intel sendiri sepertinya sadar akan celah pasar ini. Kabar terbaru menyebutkan mereka masih akan merilis prosesor Raptor Lake Next di soket LGA 1700 yang sama, memberi umur panjang bagi platform yang sudah mulai usang ini.
Bukan Sekadar Angka: Game Populer Paling Terpukul
Pengujian dilakukan menggunakan 15 game modern dengan kartu grafis Nvidia GeForce RTX 5090 di resolusi 1080p. Tujuannya untuk memaksimalkan perbedaan performa antar prosesor tanpa hambatan dari GPU.
Hasilnya konsisten: semakin kuat prosesornya, semakin besar penalti yang dibayar saat menggunakan DDR4. Core i9-14900K misalnya, kehilangan 14 persen performa secara rata-rata. Namun pada game Spider-Man 2, penurunannya mencapai 18,7 persen. Counter-Strike 2 menjadi satu-satunya judul yang hampir tidak terpengaruh, terutama pada prosesor lawas seperti Core i7-12700K yang performanya identik di kedua jenis memori.
DDR4 Jadi Hambatan, Bukan Jembatan
Masalah terbesar dari strategi ini bukan sekadar penurunan angka FPS. DDR4 terbukti meratakan performa antar prosesor. Core i9-14900K yang menggunakan DDR4 hanya 1,7 persen lebih cepat dari Core i9-13900K. Namun saat dipasangkan dengan DDR5, jaraknya melebar menjadi 4,6 persen. Artinya, prosesor termahal sekalipun akan tertahan oleh memori lawas.
Dari sisi konsumsi daya, DDR4 justru membuat prosesor bekerja sedikit lebih keras. Walau hanya selisih beberapa watt, ini menjadi indikasi lain bahwa DDR4 sudah menjadi bottleneck serius untuk chip generasi terbaru.
Solusi Cerdas: CPU Lebih Murah, DDR5 Lebih Cepat
Alih-alih membeli prosesor flagship dan memaksakan DDR4, para penguji menyarankan strategi sebaliknya. Saat ini ada banyak penawaran menarik untuk prosesor DDR5 kelas menengah. Contohnya, AMD Ryzen 7 7700X3D yang harganya justru lebih murah 80 dolar AS (sekitar Rp 1,28 juta) dari Ryzen 7 5800X3D edisi rilis ulang, namun 20 persen lebih cepat dalam gaming.
Di kubu Intel, Core Ultra 7 270K Plus dan Core Ultra 5 250K Plus juga menjadi opsi solid dengan harga sekitar 300 dolar AS (sekitar Rp 4,8 juta). Strategi ini memang memaksa pengguna merogoh kocek lebih dalam di awal untuk membeli motherboard dan RAM baru, namun memberikan performa gaming yang lebih tinggi dan jalur upgrade yang lebih panjang di masa depan.