MATARAM — Keprihatinan mendalam disuarakan Senator Evi Apita Maya saat memaparkan hasil tinjauannya di sejumlah sekolah di NTB. Menurutnya, mayoritas siswa kesulitan memahami filosofi dasar lambang negara dan sistem pemerintahan Indonesia.
"Hampir 90 persen jawaban mereka ngawur dan tidak sesuai dengan dasar filosofi yang digagas," ungkap Evi kepada wartawan di sela-sela acara Sosialisasi Kelompok MPR RI di Hotel Lombok Garden, Kamis (11/6/2026).
Guru Jadi Ujung Tombak Transfer Nilai Kebangsaan
Dalam sosialisasi yang menitikberatkan pada penguatan Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika ini, Evi sengaja melibatkan para pendidik sebagai aktor utama. Ia menilai guru adalah penyambung lidah paling efektif dari MPR RI ke generasi penerus di bangku sekolah.
"Jadi kita gandeng guru karena guru-guru sebagai penyambung lidah kami dari MPR RI ke generasi masa depan yaitu para murid-murid," jelas senator dua periode tersebut.
Selain guru, Evi juga mengajak organisasi kemasyarakatan dan kepemudaan untuk turut menyebarluaskan nilai-nilai kebangsaan di tengah interaksi sosial masyarakat. Langkah ini diharapkan mampu memperluas jangkauan pesan Empat Pilar hingga ke akar rumput.
Mengapa Gen Z Dinilai Abai pada Pancasila?
Evi mengungkapkan bahwa temuan di lapangan dan sejumlah hasil riset menunjukkan penghayatan generasi muda terhadap ideologi bangsa sangat rendah. Banyak dari mereka yang bahkan tidak hafal sila-sila Pancasila dan tidak mengenali bentuk negara.
"Sangat prihatin dengan kondisi mulut-mulut kita, siswa-siswa kita, yang minim sekali pengetahuan terhadap Empat Pilar ini. Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika itu adalah fondasi fundamental bangsa. Sekarang ini anak-anak, terutama Gen Z, banyak yang tidak mau peduli lagi," sesal Evi.
Ia menyebut modernisasi dan ketergantungan pada gawai sebagai tantangan utama yang membuat generasi muda abai terhadap etika moral bangsa. Menurutnya, Pancasila tidak sedikit pun menyimpang dari etika moral bangsa Indonesia.
Kurikulum Etika Moral Pancasila Harus Kembali Digalakkan
Menghadapi fenomena ini, Evi mendorong pengembalian pola pendidikan karakter yang kuat, serupa dengan metode Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) atau penguatan mata pelajaran PMP/PKN. Meski saat ini tidak lagi duduk di Komite III yang membidangi pendidikan, ia menegaskan perjuangan kurikulum etika moral Pancasila harus terus disuarakan dari jenjang TK hingga perguruan tinggi.
"Jika generasi muda sudah tidak peduli pada fondasi negaranya, bagaimana bangsa ini bisa tetap kokoh," pungkasnya.