MATARAM — Di tengah maraknya kuliner kekinian, sayur lebui tetap menjadi identitas rasa bagi masyarakat Lombok. Sayur kuah ini menggunakan bahan dasar kedelai hitam lokal, atau yang akrab disebut kedelai lebui, yang memberikan cita rasa gurih dan tekstur khas.
Kedelai lebui berbeda dari kedelai biasa. Warnanya hitam pekat, ukurannya lebih kecil, dan memiliki aroma yang lebih kuat. Masyarakat tradisional Lombok biasa mengolahnya menjadi sayur kuah santan yang disantap bersama nasi hangat dan lauk pendamping seperti ayam taliwang atau sate rembiga.
Apa Bedanya Kedelai Lebui dengan Kedelai Biasa?
Kedelai lebui memiliki kulit berwarna hitam legam dan tekstur yang lebih padat. Saat direbus, bijinya tidak mudah hancur sehingga cocok untuk dimasak dalam waktu lama. Rasanya cenderung lebih gurih dibanding kedelai kuning pada umumnya.
Sayur lebui sendiri dimasak dengan campuran santan, bawang merah, bawang putih, cabai, dan rempah lokal seperti lengkuas serta daun jeruk. Proses memasaknya membutuhkan kesabaran agar bumbu meresap sempurna ke dalam biji kedelai.
Mulai Tergusur oleh Kedelai Impor
Meski kaya rasa dan bernilai budaya, keberadaan kedelai lebui semakin terdesak. Petani di beberapa daerah di Lombok kini lebih memilih menanam kedelai kuning impor yang dianggap lebih produktif dan mudah dipasarkan. Akibatnya, kedelai lebui hanya bisa ditemukan di pasar-pasar tradisional tertentu atau ditanam dalam skala kecil oleh petani tua.
"Sekarang yang nanam lebui tinggal orangtua. Anak muda lebih suka tanam kedelai biasa karena hasilnya lebih cepat," ujar seorang pedagang di Pasar Kebon Roek, Mataram, yang enggan disebut namanya.
Upaya Melestarikan Sayur Lebui
Sejumlah komunitas kuliner dan pegiat budaya lokal mulai mendorong kebangkitan sayur lebui. Mereka menggelar festival kuliner dan pelatihan memasak untuk memperkenalkan hidangan ini ke generasi muda. Beberapa restoran di Lombok juga mulai menyajikan sayur lebui sebagai menu andalan untuk menarik wisatawan yang ingin mencicipi autentisitas rasa lokal.
Pemerintah daerah pun mulai melirik potensi kedelai lebui sebagai komoditas unggulan. Dinas Pertanian Lombok Barat, misalnya, telah mendata petani yang masih menanam varietas ini untuk kemudian dikembangkan kembali melalui program bibit unggul.
Mencicipi Sayur Lebui di Lombok
Bagi wisatawan yang penasaran, sayur lebui bisa ditemukan di warung-warung tradisional di sekitar Mataram dan Lombok Barat. Harganya terjangkau, berkisar Rp 10 ribu hingga Rp 15 ribu per porsi. Selain sebagai menu harian, sayur lebui juga kerap disajikan dalam acara adat dan syukuran keluarga.
Dengan kekhasan rasa dan sejarah panjangnya, sayur lebui layak menjadi salah satu ikon kuliner Nusa Tenggara Barat yang perlu dilestarikan. Tanpa upaya serius, bukan tidak mungkin hidangan ini hanya akan tinggal cerita.