MATARAM — Pemerintah Provinsi NTB menggelar upacara peringatan Hari Lahir Pancasila dengan tema “Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia”. Upacara dihadiri Forkopimda, kepala OPD, TNI-Polri, ASN, dan perwakilan lembaga vertikal di lingkungan Pemprov NTB.
Pancasila sebagai Living Ideology di Tengah Disrupsi Global
Gubernur yang akrab disapa Miq Iqbal menyebut peringatan 1 Juni bukan sekadar seremoni tahunan. Momentum ini menjadi refleksi agar api Pancasila tetap menyala dalam jiwa setiap insan Indonesia, terutama di tengah ketidakpastian global, disrupsi teknologi, dan dinamika geopolitik.
“Nilai-nilai luhur Pancasila tidak hanya relevan untuk menjaga keutuhan bangsa Indonesia, namun juga menjadi jawaban atas terciptanya perdamaian dunia yang abadi,” ujar Miq Iqbal saat membacakan pidato Kepala BPIP.
Kontribusi Nyata Indonesia di Kancah Internasional
Miq Iqbal menekankan bahwa Indonesia memiliki tanggung jawab konstitusional untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia sesuai amanat Pembukaan UUD 1945. Melalui politik luar negeri bebas aktif, nilai musyawarah dan mufakat menjadi instrumen diplomasi yang dibutuhkan dunia untuk menjembatani perbedaan dan menghentikan konflik.
“Ini adalah pengejawantahan dari Sila Kedua: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Kita ingin dunia melihat bahwa perdamaian bukan sekadar ketiadaan perang, melainkan hadirnya keadilan bagi seluruh umat manusia,” tegas mantan Dubes Turki tersebut.
Indonesia, lanjutnya, telah menunjukkan kepemimpinan nyata di kancah internasional melalui kontribusi aktif Pasukan Perdamaian Indonesia di bawah bendera PBB, peran mediasi dalam konflik regional, hingga konsistensi menyuarakan keadilan bagi bangsa-bangsa terjajah.
Pesan Khusus untuk Generasi Muda dan Kebijakan Publik
Miq Iqbal menitipkan pesan agar Pancasila dijadikan sebagai living ideology, terutama oleh generasi muda sebagai penjaga masa depan. Nilai-nilai Pancasila tidak boleh sekadar menjadi hiasan dinding kantor atau teks di buku sejarah.
Gubernur juga mengingatkan agar setiap kebijakan publik yang lahir selalu berlandaskan keadilan sosial, memenuhi rasa keadilan publik, menjamin hak-hak masyarakat terkecil, serta tidak membiarkan ada rakyat yang merasa ditinggalkan. Seluruh elemen bangsa diajak untuk terus melawan segala bentuk intoleransi dan radikalisme demi menjaga harmonisasi kebangsaan.
Upacara yang berlangsung tertib dan penuh nasionalisme ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk terus menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia adalah bangsa besar yang kuat karena persatuan dan nilai-nilai kemanusiaannya.