JAKARTA — Setelah fase kedatangan jemaah haji Indonesia tahun 1447 H/2026 M dinyatakan rampung, Kemenhaj kini bekerja di bawah tekanan waktu. Puncak ibadah di Armuzna hanya tinggal menghitung hari, dan kesiapan teknis menjadi harga mati.
Juru Bicara Kemenhaj, Maria Assegaff, mengonfirmasi bahwa seluruh unsur layanan telah diinstruksikan untuk bergerak cepat. Fokusnya bukan lagi pada transportasi kedatangan, melainkan pada perlindungan jemaah di titik-titik kritis ibadah.
Penandaan Tenda: dari Kloter hingga Nama Jemaah
Salah satu langkah konkret yang disorot adalah sistem penandaan tenda di Arafah dan Mina. Kemenhaj tidak hanya memasang?? berdasarkan kloter, tetapi juga hingga level nama jemaah di setiap tenda.
“Penandaan tenda ini menjadi bagian penting dari ikhtiar kami memperkuat ketertiban layanan. Dengan penandaan berbasis kloter hingga nama jemaah, diharapkan pergerakan dan penempatan jemaah lebih mudah dikendalikan,” ujar Maria di Jakarta, Kamis (22/5).
Langkah ini, menurutnya, bertujuan agar tidak ada satu pun jemaah yang kehilangan hak atas tempat yang telah dialokasikan. Sistem ini juga memudahkan petugas dalam melakukan evakuasi atau distribusi logistik jika terjadi situasi darurat.
Larangan Tegas Atribut KBIHU di Area Armuzna
Kemenhaj juga mengambil sikap keras terhadap pelanggaran tata kelola tenda. Maria menegaskan bahwa pihaknya tidak akan mentolerir pemasangan atribut, spanduk, atau penanda dari KBIHU di tenda jemaah, baik di Arafah maupun Mina.
“Kami tegaskan kepada seluruh KBIHU untuk tidak menempelkan atribut, spanduk, atau penanda dalam bentuk apa pun di tenda jemaah. Kami tak segan mencabut izin KBIHU yang tak patuh,” tegasnya.
Penertiban ini dilakukan karena atribut ilegal dinilai mengganggu distribusi jemaah dan berpotensi menimbulkan klaim sepihak atas fasilitas negara. Seluruh?? yang sudah terlanjur dipasang akan dicabut paksa oleh petugas.
Skenario Pergerakan Jemaah: dari Hotel ke Arafah hingga Mina
Selain kesiapan tenda, Kemenhaj telah menyusun skenario ketat untuk pergerakan jemaah. Rute ini mencakup keberangkatan dari hotel menuju Arafah pada 8 Dzulhijjah, pergerakan lanjutan menuju Muzdalifah, hingga proses masuk dan penempatan di Mina.
Maria menyebut fase Armuzna sebagai ujian paling berat karena melibatkan mobilitas massal dalam waktu terbatas. “Armuzna adalah fase puncak yang membutuhkan kesiapan total. Kami ingin memastikan seluruh proses berjalan tertib, aman, dan tetap mengutamakan keselamatan jemaah,” katanya.
Ia mengimbau jemaah untuk disiplin mengikuti arahan petugas, menjaga kondisi fisik, dan tidak memaksakan diri di luar rangkaian ibadah utama. Pemerintah, kata dia, sudah menyiapkan petugas yang sigap, tetapi keberhasilan ibadah juga bergantung pada kepatuhan jemaah di lapangan.