Hyundai Sebut Tantangan Terbesar Mobil Hidrogen Bukan Teknologi, tapi Cari Pembeli

Penulis: Ridho Pratama  •  Senin, 02 November 2026 | 16:17:30 WIB
Hyundai menyebut tantangan terbesar mobil hidrogen saat ini adalah menemukan cukup banyak konsumen, bukan pengembangan teknologi.

NUSA TENGGARA BARAT — Hyundai menegaskan mobil hidrogen belum mati, tetapi mengakui kesulitan utama bukan lagi soal rekayasa mesin, melainkan mencari cukup banyak konsumen yang mau membelinya. Scott Nargar, Senior Manager Future Mobility and Government Relations Hyundai Australia, menyebut tantangan terbesar justru ada di sisi permintaan. Teknologi fuel-cell disebut masih lebih mahal dan bergantung pada jaringan pengisian yang sangat terbatas.

Pernyataan itu keluar saat Hyundai masih mengevaluasi kelanjutan mobil fuel-cell generasi berikutnya. Perusahaan asal Korea Selatan tersebut belum mau meninggalkan teknologi hidrogen, meski pasar kendaraan listrik berbasis baterai terus tumbuh di banyak negara.

"Hydrogen isn't dead for passenger vehicles," kata Scott Nargar kepada majalah CarExpert, seperti dikutip dalam bahan. Ia menambahkan bahwa persoalan terbesarnya sederhana: "The biggest thing is you've got to find is customers."

Nexo Jadi Bukti Hyundai Sudah Punya Pengalaman

Hyundai sudah menjual Nexo, crossover bermesin hidrogen, dan kini mempertimbangkan langkah selanjutnya. Model generasi kedua belum benar-benar mapan di banyak pasar, tetapi perusahaan tidak menutup kemungkinan menambah investasi pada kendaraan penumpang fuel-cell.

Pengalaman Nexo menunjukkan bahwa mengembangkan teknologi adalah satu hal, meyakinkan orang untuk membeli kendaraan yang bergantung pada jaringan pengisian terbatas adalah hal lain. Konsumen di banyak negara belum punya akses mudah ke stasiun hidrogen.

Toyota dan BMW Tetap Bertahan, Mercedes dan Honda Mundur

Hyundai tidak sendirian. Toyota sudah bertahun-tahun mengembangkan hidrogen lewat sedan Mirai, sementara BMW berencana menghadirkan iX5 Hydrogen pada akhir dekade ini. Toyota dan BMW memperkuat kerja sama pada 2024 untuk mengembangkan sistem fuel-cell generasi ketiga sekaligus menekan biaya produksi.

BMW memandang hidrogen bukan sebagai pengganti kendaraan listrik berbaterai, melainkan jalan lain untuk memangkas emisi. Toyota mengambil posisi serupa dengan tetap menginvestasikan dana ke baterai, hibrida, plug-in hybrid, dan hidrogen sekaligus.

Sebaliknya, sejumlah pabrikan justru mundur. Mercedes menghentikan pengembangan mobil penumpang fuel-cell setelah bertahun-tahun riset, Honda menutup produksi Clarity Fuel Cell, dan Stellantis pada 2025 membatalkan program hidrogennya karena infrastruktur terbatas serta tidak ada kelayakan komersial. General Motors juga menghentikan pengembangan fuel-cell generasi berikutnya dan beralih ke kendaraan listrik berbaterai.

Kenapa Mobil Hidrogen Sulit Laku

Biaya teknologi fuel-cell masih mahal. Jaringan pengisian hidrogen sangat sedikit, sehingga kepemilikan mobil hidrogen menjadi tidak praktis di banyak pasar.

Berbeda dengan kendaraan listrik berbaterai yang punya jaringan pengisian cepat berkembang dan bisa diisi di rumah, mobil hidrogen butuh infrastruktur khusus yang mahal untuk dibangun dan dirawat. Nargar juga mengakui teknologi hidrogen masih lebih mahal dibanding alternatif baterai, bahkan untuk kendaraan komersial yang bersaing dengan truk konvensional dan truk listrik.

Peluang Hidrogen di Pasar dengan Energi Terbarukan

Hyundai tetap melihat potensi. Perusahaan percaya hidrogen bisa berperan dalam transportasi masa depan, terutama di pasar yang punya sumber daya alam untuk memproduksinya dari energi terbarukan.

Namun memperluas jaringan pengisian dan membuat teknologi lebih terjangkau menjadi syarat utama untuk menarik pembeli swasta. Tanpa dua hal itu, mobil hidrogen akan tetap menjadi pilihan pinggiran.

Untuk saat ini, Hyundai, Toyota, dan BMW menjaga teknologi ini tetap hidup di tengah arus industri yang makin condong ke tenaga baterai. Hidrogen kemungkinan besar tidak akan menjadi solusi dominan untuk mobil penumpang, tetapi ketiga pabrikan itu jelas belum siap mencoretnya dari peta jalan mereka.

Reporter: Ridho Pratama
Sumber: motor1.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top