MATARAM — Sinyal terbaru dari Presiden AS Donald Trump soal kelanjutan operasi militer terhadap Iran kembali memicu kekhawatiran di pasar global. Meski belum ada pernyataan resmi soal bentuk operasi selanjutnya, isyarat ini cukup untuk mengguncang harga minyak mentah dunia.
Trump tidak merinci bentuk operasi militer yang dimaksud, namun pernyataan itu langsung ditangkap pasar sebagai sinyal bahwa tekanan terhadap Iran tidak akan mereda. Dalam beberapa pekan terakhir, harga minyak mentah sudah menunjukkan tren naik akibat ketegangan di Selat Hormuz.
Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak dunia berarti beban subsidi energi membengkak. Pemerintah harus mengalokasikan ulang anggaran jika harga minyak bertahan di atas asumsi APBN.
Setiap kenaikan harga minyak mentah sebesar 10 dolar AS per barel berpotensi menambah beban subsidi BBM dan LPG hingga puluhan triliun rupiah. Pada 2024 lalu, Indonesia mengimpor sekitar 600 ribu barel minyak per hari, menjadikan negara ini sangat rentan terhadap gejolak harga global.
Ekonom memprediksi jika konflik berlanjut, harga BBM nonsubsidi bisa naik dalam waktu dekat. Sementara itu, pemerintah masih menahan harga BBM bersubsidi dengan mengandalkan dana kompensasi.
Langkah jangka pendek yang biasanya diambil adalah menambah kuota subsidi atau menyesuaikan harga BBM nonsubsidi. Namun, kebijakan ini selalu menjadi dilema karena berpotensi memicu inflasi dan menekan daya beli masyarakat.
Belum ada pernyataan resmi dari Kementerian ESDM atau Pertamina soal antisipasi kenaikan harga minyak akibat isyarat Trump ini. Yang jelas, situasi di Timur Tengah tetap menjadi variabel yang paling tidak pasti dalam perhitungan APBN tahun ini.