Rektorat Unram Mataram Bantah Bungkam Mahasiswa Usai Bubarkan Nobar Film Dokumenter Papua

Penulis: Taufik Rahman  •  Minggu, 10 Mei 2026 | 13:01:35 WIB
Pembubaran nobar film dokumenter Papua di Unram dilakukan atas alasan ketertiban dan keamanan kampus.

MATARAM — Manajemen Universitas Mataram (Unram) memberikan penjelasan resmi mengenai penghentian paksa acara nonton bareng (nobar) film dokumenter berjudul "Pesta Babi". Kegiatan yang berlangsung di depan gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) tersebut dibubarkan oleh aparat keamanan kampus bersama jajaran rektorat.

Kepala Humas dan Protokol Unram, Dr. Khairul Umam, menegaskan bahwa langkah tersebut diambil murni karena alasan teknis ketertiban. Ia membantah tudingan yang menyebut pihak universitas berupaya membatasi kebebasan berekspresi mahasiswa dalam menyuarakan isu-isu sosial melalui film.

“Pembubaran dilakukan murni karena alasan ketertiban dan bukan untuk membungkam berekspresi,” ujar Khairul Umam dalam keterangan resminya.

Alasan Keamanan dan Ketiadaan Izin Detail

Pihak kampus menyebut penyelenggara nobar tidak memberikan informasi terperinci mengenai rencana kegiatan tersebut. Khairul menjelaskan bahwa universitas perlu mengetahui jenis kegiatan serta estimasi jumlah massa yang terlibat guna melakukan langkah antisipasi keamanan di lingkungan kampus.

Kepadatan massa yang berkumpul di lokasi menjadi pemicu utama intervensi pihak rektorat. Menurut Khairul, penonton yang hadir saat itu dinilai terlalu banyak dan melibatkan pihak luar yang bukan merupakan mahasiswa aktif Universitas Mataram.

“Pembubaran penonton dilakukan setelah jumlah massa yang berkumpul sangat banyak, termasuk yang bukan mahasiswa Unram. Pembubaran untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan,” ucapnya menambahkan.

Perbedaan Perlakuan di Fakultas Teknik

Guna memperkuat argumen bahwa tidak ada pelarangan konten, Khairul mengungkapkan bahwa pemutaran film yang sama juga dilakukan oleh mahasiswa di Fakultas Teknik Unram pada waktu yang bersamaan. Namun, kegiatan di lokasi tersebut tetap berjalan tanpa hambatan.

“Di Fakultas Teknik juga melakukan nonton bareng film yang sama dan tidak ada teguran sama sekali,” katanya. Ia berharap insiden ini menjadi bahan evaluasi bagi seluruh organisasi mahasiswa dalam menyelenggarakan kegiatan di area publik kampus Mataram.

Klaim Kondusivitas dan Perintah Atasan

Sebelumnya, Wakil Rektor Bidang Kemanusiaan dan Alumni Unram, Dr. Sujita, turun langsung memimpin pembubaran acara tersebut. Sujita sempat terlibat adu mulut dengan sejumlah mahasiswa yang kecewa atas penghentian diskusi film karya sutradara Dandhy Dwi Laksono dan Cypri Dale itu.

Sujita menyatakan bahwa penghentian nobar film tentang perjuangan masyarakat adat di Papua Selatan ini dilakukan untuk menjaga persatuan. Ia mengaku hanya menjalankan instruksi tanpa merinci lebih jauh asal perintah tersebut.

“Mohon dimengerti bersama ini untuk menjaga kondusivitas sebaiknya film ini tidak ditonton, saya tidak mengutarakan alasannya. Intinya untuk menjaga kondusivitas demi persatuan dan kesatuan bangsa kita,” tegas Sujita di hadapan mahasiswa.

Di sisi lain, perwakilan mahasiswa asal Papua, Kofa, menyayangkan sikap represif birokrasi kampus. Ia menilai pelarangan ini merupakan upaya untuk menutup mata publik terhadap realita yang terjadi di tanah adat Papua saat ini. Meski dibubarkan, mahasiswa berencana mencari lokasi alternatif di luar kampus untuk melanjutkan diskusi tersebut.

Reporter: Taufik Rahman
Sumber: globalfmlombok.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top