Film The Devils Rilis Ulang 4K Tanpa Sensor, 55 Tahun Setelah Kontroversi

Penulis: Okta Nugraha  •  Jumat, 23 Oktober 2026 | 21:17:01 WIB
Film The Devils karya Ken Russell dirilis ulang dalam format 4K tanpa sensor oleh Clockwork, label Warner Bros.

NUSA TENGGARA BARAT — Ken Russell's The Devils kembali tayang di bioskop dalam versi utuh dan tanpa sensor lewat rilis ulang 4K oleh Clockwork, label Warner Bros. Rilis ini hadir 55 tahun setelah debut kontroversialnya di Cannes dan London Film Festival. Bersamaan dengan itu, putra sang sutradara, Rupert Russell, menyiapkan dokumenter Mad Dad tentang sang ayah.

Rilis ulang The Devils dalam format 4K memberi generasi baru kesempatan mengenal Ken Russell, sineas Britania yang kerap disebut sebagai sosok "liar" yang kurang mendapat perhatian dalam sejarah perfilman negaranya. Film ini sejak awal memang dibangun di atas citra grafis, provokatif, dan dianggap menghujat, sehingga sempat menjadi salah satu karya paling diperdebatkan di masanya.

Clockwork, label milik Warner Bros., menjadi pihak yang menggelar pemutaran ulang tersebut. Versi yang ditayangkan kini utuh, tanpa pemotongan maupun penyensoran.

Mengapa The Devils Kembali Diputar Sekarang

Penayangan ulang ini bertepatan dengan retrospektif karya Ken Russell yang dijadwalkan digelar British Film Institute pada tahun depan. Momen tersebut dimanfaatkan untuk menghadirkan kembali film yang debutnya sempat mengguncang Cannes dan London Film Festival.

Bagi penonton Indonesia, The Devils mungkin lebih dikenal sebagai judul yang selalu disebut dalam diskusi soal batas sensor dan kebebasan berkarya di perfilman Eropa pada 1970-an. Rilis ulang ini memberi kesempatan menilai filmnya langsung, bukan lewat ringkasan kontroversinya.

Mad Dad, Potret Ken Russell dari Dalam Keluarga

Rupert Russell mengumumkan proyek dokumenter berjudul Mad Dad yang disebut sebagai potret definitif sang ayah. Ia menggandeng Anna Hashmi, produser sekaligus pendiri The Corner Shop, bersama Andy Starke dari Anti-Worlds Films dan Sam Cryer dari Intermission Films. Daniel Bergmann dari Stink Films bertindak sebagai executive producer.

Dokumenter ini mengikuti perjalanan tragikomik Rupert untuk memahami sosok ayahnya: antara sang bapak dan sang sutradara, antara seni dan senimannya, antara mitos dan manusia, antara penghargaan dan keabsurdannya.

Bahan utamanya adalah arsip keluarga yang belum pernah dilihat publik, termasuk ratusan surat pribadi, ribuan foto, dan sejumlah home movie. Salah satu yang disorot adalah docudrama otobiografi Ken berjudul A British Picture, di mana Ken memerankan sendiri para antagonisnya dan Rupert yang masih berusia empat tahun memerankan Ken muda.

Siapa Saja yang Muncul di Mad Dad

Dokumenter ini menghadirkan anggota keluarga yang belum pernah berbicara di depan publik. Sejumlah nama besar dari dunia film dan musik juga terlibat, di antaranya Guillermo del Toro, Steven Soderbergh, Kathleen Turner, Pete Townshend, Oliver Stone, Twiggy, dan Ann-Margret.

Rupert sendiri bukan nama baru di ranah dokumenter. Freedom for the Wolf meraih Audience Award di Slamdance Film Festival dan masuk nominasi Cinema for Peace Most Valuable Film of the Year di Berlinale 2019. Price Wars, karya keduanya, juga ia tulis menjadi buku yang diterbitkan Doubleday dan ditayangkan di ARTE. Film terbarunya, The Last Sacrifice, tayang di bioskop pada 2025 dan diakuisisi layanan streaming horor Shudder.

Langkah The Corner Shop di Produksi Film

The Corner Shop terus memperluas lini produksi filmnya. Rumah produksi ini baru saja menerima pendanaan BFI untuk The Mammoths That Escaped the Kingdom of Erlik Khan garapan Tamara Kotevska, sutradara dengan dua nominasi Oscar. Tahun lalu, The Corner Shop merilis The Tale of Silyan, juga karya Kotevska, yang tayang perdana di Venice dan TIFF, terjual ke Nat Geo, serta meraih penghargaan di IDA, Cinema Eye, Venice, Humanitas, dan Chicago, plus dua nominasi Emmy.

Rilis ulang The Devils menempatkan Clockwork pada posisi menarik: menghadirkan kembali film yang dulu sulit ditonton secara utuh, di saat diskusi soal sensor dan warisan sineas seperti Ken Russell justru kembali relevan lewat retrospektif BFI dan dokumenter keluarganya.

Reporter: Okta Nugraha
Sumber: variety.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top