LOMBOK TIMUR — Calon mitra yang berminat mengelola produksi spandek di UPT Logam Kotaraja sudah menyatakan kesediaan. Dinas Perindustrian berharap kerja sama itu menghidupkan kembali aktivitas produksi sekaligus mendongkrak pendapatan daerah.
Alwan menyatakan persoalan UPT Logam Kotaraja tidak berhenti pada produksi. Pemasaran produk menjadi kendala yang sama besarnya.
Kepastian kerja sama masih bergantung pada disposisi Bupati Lombok Timur. Dinas Perindustrian belum bisa memastikan kapan kerja sama produksi spandek mulai berjalan.
"Makanya tinggal saya tunggu dulu disposisi Pak Bupati. Saya sangat berharap pihak ketiga masuk," kata Alwan, Rabu, 21 Oktober 2026.
Menurut Alwan, UPT sebagai unit milik pemerintah tidak dapat menjalankan usaha komersial secara langsung. Karena itu, kehadiran pihak ketiga dibutuhkan untuk memasarkan produk dan mengembangkan kegiatan usaha.
Pada tahap awal, calon mitra memilih menggarap lini produksi spandek. Padahal Dinas Perindustrian juga menawarkan pengelolaan lini permesinan yang tersedia di UPT tersebut.
"Kalau memang pengelolaan spandek ini bagus, baru nanti kita harapkan pihak ketiga juga mengelola lini permesinan," ujar Alwan.
UPT Logam Kotaraja memiliki sejumlah prototipe mesin yang berpotensi mendukung kebutuhan masyarakat dan industri kecil menengah (IKM). Produk itu antara lain mesin pencacah rumput atau chopper, mesin pengaduk pakan, mesin perajang tembakau, serta mesin pemipil jagung.
Pendapatan tertinggi UPT Logam Kotaraja sebelumnya mencapai sekitar Rp 50 juta. Capaian itu pun melibatkan pihak ketiga dalam pengelolaannya.
Dinas Perindustrian berharap pola kerja sama serupa bisa meningkatkan pendapatan UPT. Dengan target Rp 200 juta pada 2026, produksi perlu dioptimalkan sekaligus pemasaran produk diperluas.
"Makanya kita juga mau upayakan pihak ketiga, tidak hanya di anu spandek saja, tapi mesin juga," kata Alwan.
Selain mengejar pendapatan daerah, pengembangan UPT diharapkan memberi manfaat bagi pelaku IKM. Caranya melalui penyediaan peralatan dan teknologi tepat guna.
Dinas Perindustrian juga membuka peluang pengembangan mesin sesuai kebutuhan pelaku industri. "Ke depan, kita mau tambahkan prototipe yang kira-kira dibutuhkan oleh masyarakat," ujarnya.