IHSG Melonjak 5,65% ke 5.278,99, TLKM dan BBRI Jadi Motor Penggerak

Penulis: Ridho Pratama  •  Rabu, 21 Oktober 2026 | 08:48:01 WIB
IHSG ditutup melonjak 5,65% ke level 5.278,99 pada perdagangan Selasa (20/10).

NUSA TENGGARA BARAT — Indeks Harga Saham Gabungan ditutup melonjak 5,65% ke level 5.278,99 pada perdagangan Selasa (20/10), berbalik dari koreksi tajam sehari sebelumnya. Lonjakan dipicu aksi bargain hunting, rencana buyback emiten senilai sekitar Rp4,50 triliun, dan perhatian pasar terhadap rencana reformasi transparansi pasar modal. Seluruh 11 sektor saham di BEI kompak menguat, dengan sektor transportasi memimpin kenaikan 8,55%.

Penguatan indeks ditopang saham-saham berkapitalisasi besar. TLKM melonjak 16,38% dan menjadi saham yang paling banyak mendorong pergerakan IHSG, disusul BBRI yang naik 9,84% dan BBCA yang menguat 7,88%.

Di kubu sebaliknya, sejumlah saham justru terkoreksi. BYAN turun 3,86%, MORA melemah 6,87%, dan DCII turun 1,14%.

Asing Masih Net Sell Rp2,13 Triliun di Pasar Reguler

Meski indeks menguat tajam, investor asing belum ikut masuk. Di pasar reguler, net sell asing mencapai Rp2,13 triliun, sementara di seluruh pasar nilainya mencapai Rp2,21 triliun.

Seluruh 11 sektor saham yang tercatat di BEI kompak menghijau. Sektor transportasi menjadi penguat terbesar dengan kenaikan 8,55%, mencerminkan rotasi dana ke sektor yang sebelumnya tertekan.

Empat Faktor di Balik Rebound IHSG

Setidaknya ada empat pemicu yang membuat IHSG berbalik arah. Pertama, aksi bargain hunting setelah koreksi tajam pada sesi sebelumnya. Kedua, rencana buyback sejumlah emiten dengan nilai sekitar Rp4,50 triliun yang memberi sinyal dukungan terhadap harga saham.

Ketiga, perhatian investor terhadap rencana reformasi transparansi pasar modal. Keempat, rencana Danantara menambah kepemilikan saham sejumlah BUMN, termasuk di sektor perbankan, yang menjadi sorotan di tengah sentimen terkait MSCI.

Di pasar global, sinyal positif datang dari produk investasi yang mengekspos Indonesia. ETF EIDO menguat 7,18% dan MSCI Indonesia naik 9,65%, jauh melampaui kenaikan indeks utama Wall Street.

Bursa AS Bergerak Campuran

Di Amerika Serikat, pergerakan indeks berlangsung beragam. Dow Jones naik 1,02% ke 52.495 dan S&P 500 menguat 0,28% ke 7.712, sedangkan Nasdaq turun tipis 0,02% ke 26.424.

Kombinasi penguatan IHSG yang jauh lebih besar dibanding bursa AS menunjukkan faktor domestik — buyback, bargain hunting, dan ekspektasi reformasi pasar — lebih dominan ketimbang sentimen global.

MUTU Ekspansi ke Vietnam, Incar Pasar Indochina

Di jajaran emiten, PT Mutuagung Lestari Tbk (MUTU) mulai memperluas bisnis pengujian, inspeksi, dan sertifikasi (TIC) ke Vietnam. Perseroan membuka kantor cabang di Vietnam yang disiapkan sebagai titik awal ekspansi ke Laos dan Kamboja, dengan sektor bidikan kehutanan, lingkungan, dan pertanian.

Untuk memperkuat langkah tersebut, MUTU menandatangani nota kesepahaman dengan Forestry Science Institute of South Vietnam (FSISV). Perseroan juga mendiversifikasi layanan melalui inspeksi halal.

Ekspansi ke Indochina masih berkaitan dengan bisnis utama MUTU, terutama sertifikasi keberlanjutan, kehutanan, dan sawit. Pendapatan dari bisnis tersebut pada 2025 tercatat Rp331,48 miliar, tumbuh 7,33% dibandingkan tahun sebelumnya.

MUTU melihat industri TIC global diproyeksikan mencapai sekitar US$290 miliar pada 2029. Namun perseroan belum mengungkap target pendapatan maupun nilai investasi ekspansi, sehingga kontribusinya ke kinerja keuangan belum bisa dihitung. Laba bersih MUTU pada semester I 2026 tercatat Rp14,72 miliar.

WTON Kirim Bantalan Rel ke Metro Manila Subway

PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON) mulai mengirimkan bantalan rel kereta beton pracetak untuk proyek Metro Manila Subway Project (MMSP) di Filipina. Pengiriman perdana via jalur laut dilakukan pada 22 September 2026.

Produk dipasok melalui anak usaha WIKA Kobe, perusahaan patungan WTON dengan PS Construction Co. Ltd asal Jepang. Dalam proyek ini, WIKA Kobe menjadi pemasok Colas Rail Philippines untuk Paket Kontrak CP106 yang mencakup pekerjaan E&M Systems and Track Works, dengan periode kontrak hingga 2029.

Kinerja WTON pada semester I 2026 masih tertekan. Pendapatan turun 5,51% YoY menjadi Rp1,48 triliun, tetapi laba bersih naik 9,14% YoY menjadi Rp4,75 miliar berkat perbaikan margin. Nilai kontribusi proyek Metro Manila belum dapat dihitung karena perseroan belum mengungkap nilai kontraknya.

VISI Siapkan Private Placement Rp120 Miliar

PT Satu Visi Putra Tbk (VISI) menyiapkan Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD). Perseroan akan menerbitkan 120,72 juta saham baru dengan nominal Rp25 per saham dan harga pelaksanaan Rp994 per saham, sehingga dana yang berpotensi dihimpun sekitar Rp120 miliar.

Seluruh saham baru diserap tiga pihak. PT Harmoni Semesta Investama mengambil 72,43 juta saham, sedangkan PT Atlas Raya Abadi dan PT Trinugraha Thohir Harmoni masing-masing menyerap 24,14 juta saham. Harmoni Semesta merupakan pihak terafiliasi.

Aksi korporasi ini mendilusi pemegang saham publik. Kepemilikan publik diproyeksikan turun dari 19,99% menjadi 19,24%, atau terdilusi 3,78%. Rencana PMTHMETD telah disetujui dalam RUPS Independen pada 30 September 2026, dengan saham baru dijadwalkan terbit pada 28 Oktober 2026.

Reporter: Ridho Pratama
Sumber: finance.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top