MATARAM — PT Star Bright International Investment menyampaikan minat menanam modal di Nusa Tenggara Barat setelah pertemuan dengan Gubernur Lalu Muhamad Iqbal. Perusahaan penanaman modal asing asal Cina itu datang melalui fasilitasi Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) NTB. Kedatangan mereka disebut untuk melihat langsung potensi investasi yang tersedia di daerah tersebut.
Lu Keming menyatakan kekayaan alam NTB menjadi pertimbangan utama pihaknya melirik provinsi ini. Ia mengaku baru mengetahui besarnya sumber daya yang tersedia setelah berkunjung langsung ke Lombok dan Sumbawa.
"Setelah kami datang ke sini, kami mengetahui bahwa sumber daya di sini cukup banyak," ungkap Lu Keming di depan ruang kerja Gubernur NTB.
Dari sejumlah peluang yang dipetakan, Lu Keming memilih dua sektor utama untuk kerja sama, yakni pertambangan dan material abu vulkanik Gunung Rinjani. Ia menilai abu vulkanik punya nilai ekonomi tinggi bagi sektor pertanian di Cina.
Menurutnya, teknologi pengolahan di Cina sudah cukup maju untuk mencampur abu vulkanik dengan tanah perkebunan. Cara itu disebut bisa memperbaiki kandungan tanah dan meningkatkan hasil panen komoditas seperti kopi maupun padi.
"Karena teknologi kami di China sekarang sangat maju. Kalau kami tambahkan kemahirannya, kami bisa meningkatkan tanahnya dan mengubahnya dengan kandungan di dalam abu vulkanik," ujar Lu Keming.
Selain abu vulkanik, ia melihat peluang kerja sama mineral murni yang bisa dikembangkan di Pulau Lombok dan Sumbawa. Investasi komoditas seperti emas juga disebut terdapat di daerah lain, termasuk Nusa Tenggara Timur.
Lu Keming berharap pemerintah daerah memberi dukungan penuh agar proses investasi dan pengiriman ekspor di NTB berjalan lebih mudah. Ia menyebut perizinan sebagai kunci utama masuknya modal asing ke daerah.
"Ini kuncinya, butuh dukungan pemerintah untuk bisa masuk, mempermudah investasi dan pengiriman ekspor," jelas Lu Keming.
Ia mencontohkan kebijakan investasi di Morowali yang dinilai sukses menarik banyak perusahaan besar asal Cina karena kemudahan yang diberikan pemerintah. Pengalaman serupa disebutnya juga dirasakan saat perusahaan membangun kompleks apartemen di Ibu Kota Nusantara.
"Kami di IKN juga diberi free tax ya, free tax untuk impor bahan-bahannya," jelas Lu Keming.
PT Star Bright International Investment mencatatkan diri sebagai investor asing pertama yang masuk Indonesia untuk membangun kompleks apartemen di IKN. Nilai investasi yang ditanam di proyek tersebut mencapai Rp 1,25 triliun.
"Di mana hingga saat ini untuk fase pertama sudah merealisasikan investasi dalam skala besar di sana. Nah kami tertarik investasi di NTB," tegas Lu Keming.
Pemanfaatan abu vulkanik di kawasan Gunung Rinjani memerlukan perizinan ketat karena masuk area sensitif. Belum ada keterangan dari Pemerintah Provinsi NTB soal tindak lanjut penjajakan investasi ini.