Kabupaten Bima menjadi wilayah paling parah terdampak kekeringan ekstrem di Nusa Tenggara Barat dengan Hari Tanpa Hujan (HTH) mencapai 125 hari, menurut Stasiun Klimatologi NTB. Delapan kecamatan di Bima berstatus awas kekeringan meteorologis, sementara peluang hujan di sebagian besar NTB diperkirakan masih di bawah 10 persen hingga akhir September 2026.
MATARAM — Prakirawan Stasiun Klimatologi NTB Cakra Mahasurya Atmojo Pamungkas menyebut HTH terpanjang di Kabupaten Bima terjadi di Kecamatan Belo dan Kecamatan Bolo. Kondisi curah hujan di wilayah NTB berada dalam kategori rendah, yakni 0 sampai 50 milimeter per dasarian.
Pada Dasarian II September 2026 atau 11-20 September, BMKG mencatat curah hujan tertinggi hanya 9 milimeter per dasarian di Pos Hujan Suwela, Kabupaten Lombok Timur.
Cakra menjelaskan kondisi atmosfer saat ini dipengaruhi fenomena El Nino sangat kuat. Indeks Nino3.4 terpantau berada di angka +2,6 derajat Celcius dan diprediksi bertahan hingga awal 2027.
"Seluruh wilayah NTB saat ini masuk musim kemarau yang diperkuat oleh El Nino. Waspada terhadap potensi kebakaran hutan, lahan, maupun pemukiman dengan tidak melakukan pembakaran sampah sembarangan atau meninggalkan sumber api tanpa pengawasan," ujar Cakra.
Dia juga meminta warga menggunakan air secara bijak untuk mengantisipasi krisis air bersih.
BMKG menetapkan sejumlah kecamatan di NTB berstatus awas kekeringan meteorologis. Wilayah tersebut tersebar di delapan kabupaten dan satu kota.
Prakiraan BMKG menunjukkan peluang hujan di sebagian besar wilayah NTB masih tergolong rendah, di bawah 10 persen pada Dasarian III September atau 21-30 September 2026.
Sifat hujan di NTB pada periode tersebut didominasi bawah normal. Hanya sebagian kecil wilayah yang masuk kategori atas normal.
Status awas kekeringan meteorologis di sejumlah kecamatan tersebut menuntut kewaspadaan warga, terutama soal ketersediaan air bersih dan risiko kebakaran lahan.