SUMBAWA BESAR — Opening ceremony Sail to Sumbawa digelar di Pantai Seliper Ate, Kecamatan Labuhan Badas. Kegiatan tahunan ini menghadirkan peserta dari sejumlah negara, di antaranya Prancis, Selandia Baru, Amerika Serikat, dan Australia.
Bupati Sumbawa Ir. H. Syarafuddin Jarot membuka langsung rangkaian kegiatan tersebut. Ia menyebut Sail to Indonesia bukan sekadar ajang kapal singgah, melainkan peluang memperkenalkan Sumbawa ke kancah internasional.
"Kami sangat mengapresiasi kegiatan Sail to Sumbawa ini sebagai bentuk upaya mempromosikan pariwisata. Bagi kami Sail to Indonesia bukan sekadar kapal singgah tetapi kesempatan memperkenalkan wajah Sumbawa ke dunia," kata Syarafuddin.
Pelaksanaan Sail to Sumbawa diikuti sekitar 15 kapal yang singgah dengan membawa sekitar 45–50 wisatawan. Pemerintah menyiapkan sejumlah destinasi wisata unggulan untuk dikunjungi peserta.
Rute yang disiapkan mencakup menyaksikan hiu paus di Teluk Saleh, menikmati barapan kebo, menjelajahi alam Sumbawa, hingga merasakan langsung budaya lokal. Kombinasi wisata bahari dan budaya itu menjadi daya tarik utama kegiatan.
Syarafuddin menegaskan laut harus dikelola sebagai sumber kesejahteraan warga. Menurutnya, ekonomi biru, pariwisata bahari, perikanan, kelautan, UMKM, hingga ekonomi kreatif menjadi sektor yang saling terhubung.
"Kami ingin laut bukan hanya menjadi tempat kapal lewat, tetapi menjadi sumber kesejahteraan masyarakat melalui ekonomi biru, pariwisata bahari, perikanan, kelautan, umkm, hingga ekonomi kreatif," ucapnya.
Teluk Saleh menjadi salah satu andalan Sumbawa. Data pemantauan terbaru mencatat 174 individu hiu paus telah teridentifikasi di kawasan tersebut.
Angka itu menunjukkan Teluk Saleh bukan sekadar tempat hiu paus singgah, tetapi habitat penting bagi mereka, termasuk bagi hiu paus muda. Pemerintah terus mendorong pengembangan Teluk Saleh, Moyo, dan Tambora (Samota) sebagai Kawasan Ekonomi Khusus berkelas dunia.
Pemerintah pusat menilai Samota punya peluang menjadi magnet investasi baru di Indonesia Timur. Potensinya mencakup pariwisata, ekonomi biru, ekonomi hijau, agro-maritim, industri kreatif, dan konektivitas logistik.
"Dari laut ada ekonomi biru, dari darat ada pertanian dan agrobisnis, dari bawah tanah ada sumber daya mineral. Di tengah semuanya ada masyarakat sumbawa yang harus menjadi penerima manfaat," tambah Syarafuddin.
Ketua Yacht Rally Organizer Raymond T. Lesmana menyampaikan kebanggaannya atas kesiapan tuan rumah. Ia menyebut Sail to Sumbawa telah digelar sejak 2017 dan singgah di 43 kabupaten serta 7 kota.
"Sail ini sudah kami gelar sejak tahun 2017, dari 43 kabupaten dan 7 kota yang kami singgahi, Labuhan Jambu ini yang paling cepat dalam menyiapkan infrastruktur baharinya. Ini bukan sekadar lokasi singgah, tapi menjadi hub wisata bahari mulai dari memancing, surfing, hingga snorkeling," ujarnya.
Bupati berterima kasih kepada Raymond yang telah memilih Sumbawa sebagai lokasi singgah. Ia berharap kehadiran para yachter memberi dampak positif bagi peningkatan jumlah wisatawan.
Ulasan para yatcher di majalah pariwisata maritim maupun media sosial dinilai bisa memperkenalkan Sumbawa ke seluruh dunia. Pemerintah juga mendorong setiap kecamatan mengangkat potensi dan keunikan wilayahnya melalui festival.
Salah satu peserta asal Amerika Serikat, Mrs. Nancy, membagikan pengalamannya selama berada di Sumbawa. Ia mengaku terkesan dengan keramahan masyarakat lokal.
"Saya sangat menikmati pengalaman ini. Di sini saya diterima dengan hangat, diajak berinteraksi, berfoto, bahkan berenang bersama hiu paus dalam waktu cukup lama. Pengalaman ini hanya saya rasakan di Indonesia, terutama di Sumbawa," tutupnya.