Batu Bara Bakal Jadi Bensin, ESDM Kaji Teknologi dari Berbagai Negara

Penulis: Ridho Pratama  •  Selasa, 22 September 2026 | 08:48:31 WIB
Kementerian ESDM mengevaluasi sejumlah teknologi coal-to-liquid untuk mengolah batu bara menjadi bensin dan gas.

NUSA TENGGARA BARAT — Kementerian ESDM tengah mengevaluasi sejumlah teknologi coal-to-liquid untuk mengolah batu bara menjadi bensin dan gas demi memperkuat ketahanan energi nasional. Rencana itu merupakan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menilai sumber daya alam dalam negeri harus dioptimalkan. Pemerintah menegaskan tidak akan bergantung pada satu negara pemasok teknologi.

Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Minerba) Kementerian ESDM, Tri Winarno, mengatakan pihaknya sedang menyisir teknologi tepat guna yang bisa dijalankan di Indonesia. Sejumlah opsi dari beberapa negara masuk dalam penilaian, mulai dari proses pencairan batu bara hingga konversi batu bara kalori rendah menjadi gas.

Tri menegaskan pemerintah tidak ingin terpaku pada satu negara tertentu. Prioritas utamanya adalah kecocokan teknologi dengan karakter batu bara dalam negeri.

"Nanti beberapa sedang dievaluasi lah (teknologinya). Tentang negaranya kan enggak terlalu ini, yang penting teknologinya lah," ucap Tri di Balai Sudirman, Jakarta, Selasa (22/9/2026).

Belajar dari Jerman Timur dan Sasol Afrika Selatan

Praktik mengubah batu bara menjadi bahan bakar cair bukan hal baru di dunia industri. Tri menyebut Jerman Timur pernah memakai teknologi itu untuk memasok bahan bakar tank saat tidak punya sumber minyak.

Contoh paling menonjol datang dari Sasol di Afrika Selatan. Perusahaan itu mencairkan batu bara ketika negaranya kena sanksi politik apartheid dan di-ban oleh banyak negara. Hingga kini, produksi Sasol mencapai sekitar 300 ribu barel per hari.

"Kalau di dunia, coal-to-liquid itu sudah lama," jelas Tri.

Alasan Prabowo Dorong Batu Bara Jadi Bensin

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia membeberkan latar belakang arahan Presiden Prabowo. Menurutnya, rencana ini lahir dari kondisi geopolitik global yang tidak menentu, sehingga Indonesia perlu memperkuat bantalan energi sendiri.

Langkah ini disebut merupakan kelanjutan dari keberhasilan pemanfaatan minyak sawit. Prabowo menilai potensi sumber daya alam dalam negeri belum digarap maksimal.

"Apa yang disampaikan Bapak Presiden Prabowo terkait pembuatan gas ataupun minyak lewat batu bara itu berangkat dari pemikiran dalam kondisi geopolitik yang tidak menentu," kata Bahlil di Balai Sudirman, Jakarta, Senin (21/9/2026).

Bahlil menambahkan teknologi pengolahan batu bara menjadi minyak, bensin, maupun gas sudah tersedia di banyak negara. Batu bara kalori rendah pun kini bisa diubah menjadi gas atau minyak.

China Sudah Duluan, Perusahaan Asing Tawarkan Kerja Sama

China menjadi salah satu negara yang berhasil mengubah batu bara kalori rendah menjadi gas untuk memasok kebutuhan masyarakatnya. Keberhasilan itu membuka peluang serupa bagi Indonesia yang memiliki cadangan batu bara kalori rendah melimpah.

Beberapa perusahaan asing disebut sudah menyampaikan minat kerja sama. Bahlil belum merinci nama perusahaan maupun nilai investasi yang ditawarkan.

"Di beberapa negara seperti China, gasnya sudah diambil dari batu bara low calorie. Beberapa perusahaan juga sudah menawarkan kerja sama kepada kami," ungkapnya.

Langkah Selanjutnya

Kementerian ESDM berkomitmen menindaklanjuti arahan Presiden terkait optimalisasi ketahanan energi. Setiap perintah yang menyangkut pemanfaatan sumber energi dalam negeri disebut menjadi prioritas utama kementerian.

"Kami di Kementerian ESDM akan menindaklanjuti setiap perintah Bapak Presiden terkait optimalisasi ketahanan energi dengan memanfaatkan sumber energi dalam negeri," pungkas Bahlil.

Bagi Indonesia, proyek coal-to-liquid menyimpan dua sisi. Di satu sisi, teknologi ini bisa mengurangi ketergantungan impor BBM yang selama ini membebani neraca perdagangan. Di sisi lain, biaya produksinya masih lebih mahal dibanding pengolahan minyak konvensional, sehingga skema insentif dan mitra teknologi menjadi penentu apakah rencana ini berjalan sesuai target.

Reporter: Ridho Pratama
Sumber: liputan6.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top