Rumor penundaan iPhone Ultra yang sempat beredar dalam beberapa pekan terakhir kini meredam. Laporan dari media teknologi asal Korea Selatan, The Elec, mengonfirmasi bahwa Apple bersama dua pemasok engsel utama — Shinjuxing asal Taiwan dan Amphenol asal Amerika Serikat — telah menyelesaikan seluruh kendala teknis pada modul engsel cetak 3D.
Masalah yang dihadapi Apple bukan perkara sepele. Seorang pejabat industri Taiwan yang dikutip The Elec mengungkapkan, "Setelah jutaan uji ketahanan, terdengar sedikit suara bising dari engsel." Lebih dari itu, dalam beberapa proses perakitan, toleransi komponen ternyata lebih besar dari yang diperkirakan, menyebabkan tingkat cacat produksi meningkat.
Bagi Apple, kualitas engsel adalah harga mati. Perusahaan berbasis di Cupertino itu sengaja menunda masuk ke pasar ponsel lipat selama bertahun-tahun karena ingin menghindari masalah yang menghantui kompetitor — seperti layar penyok, lipatan terlihat, atau engsel yang longgar. "Saat ini, sebagian besar masalah itu sudah terpecahkan," tambah pejabat yang sama.
iPhone Ultra kini telah memasuki tahap test production — pemeriksaan akhir untuk memastikan seluruh lini produksi berjalan mulus sebelum produksi massal dimulai. Ini adalah fase kritis yang biasanya memakan waktu 2-4 minggu, artinya jadwal September masih sangat realistis.
Modul engsel cetak 3D sendiri menjadi komponen kunci yang menentukan tiga hal: rasa saat membuka dan menutup ponsel, ketahanan lipatan, serta durabilitas layar saat direntangkan berulang kali. Dengan teknologi 3D-printing, Apple bisa mencapai presisi yang lebih tinggi dibanding metode konvensional — namun justru presisi inilah yang sempat menjadi sumber masalah toleransi.
Pendekatan Apple terhadap ponsel lipat sangat berbeda dengan Samsung atau Huawei. Alih-alih menjadi pionir, Apple memilih menjadi late entrant yang baru masuk setelah yakin semua titik lemak terselesaikan. Kegagalan engsel pada produk seharga segmen tertinggi — diperkirakan di atas $1.999 (sekitar Rp 32 juta) — bisa menjadi bencana reputasi.
Keputusan untuk menunggu hingga masalah engsel benar-benar tuntas menunjukkan bahwa Apple memprioritaskan pengalaman pengguna di atas kecepatan rilis. "Apple ingin memastikan bahwa iPhone Ultra tidak akan mengalami masalah yang sama seperti ponsel lipat lain yang beredar," tulis The Elec dalam laporannya.
Dengan masalah produksi yang sudah diatasi, konsensus industri kini mengarah pada peluncuran September 2025, bersamaan dengan lini iPhone reguler. Penjualan diperkirakan dimulai segera setelah acara keynote tahunan Apple.
Belum ada konfirmasi resmi soal harga atau ketersediaan di Indonesia. Namun, mengingat posisinya sebagai produk paling mahal dalam jajaran iPhone, serta kebijakan impor dan pajak elektronik di dalam negeri, harga iPhone Ultra di Indonesia kemungkinan akan menembus angka Rp 40 juta — menjadikannya ponsel lipat termahal yang pernah masuk pasar lokal.