LOMBOK TENGAH — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu program unggulan Presiden Prabowo Subianto mendapat sokongan penuh dari Asosiasi Kepala Desa Seluruh Indonesia (AKSI) tingkat Provinsi Nusa Tenggara Barat. Ketua DPD AKSI NTB, Saurim, menilai kebijakan ini memiliki dampak strategis, terutama bagi anak-anak di wilayah pedesaan dan daerah terpencil.
“Program MBG ini kami nilai mampu memberikan kontribusi penting dalam mencetak generasi yang sehat, cerdas, dan berdaya saing. Program ini juga menjadi salah satu fondasi menuju terwujudnya Generasi Emas Indonesia 2045,” ujar Saurim dalam pernyataannya di Praya Barat Daya, Lombok Tengah.
Tiga Pilar Pembangunan yang Terdampak
Menurut Saurim, pelaksanaan program MBG tidak hanya soal pemenuhan gizi, tetapi juga menyentuh tiga pilar pembangunan nasional. Pertama, meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM). Kedua, mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi di pedesaan. Ketiga, mempercepat pemerataan kesejahteraan masyarakat.
Ia menambahkan, program ini diyakini mampu menekan angka gizi buruk, mencegah stunting, serta memenuhi kebutuhan nutrisi seimbang bagi ibu hamil. “Dengan terpenuhinya kebutuhan gizi, konsentrasi dan semangat belajar anak-anak juga akan meningkat,” katanya.
Harapan untuk Desa Terluar
Saurim yang pada tahun 2024 terpilih sebagai salah satu kepala desa terbaik dalam ajang Paralegal Justice Award Kementerian Hukum dan HAM RI, berharap program ini tidak berhenti di perkotaan. Ia mendorong agar cakupan MBG diperluas hingga ke desa-desa terpencil dan terluar di NTB.
“Kami dari DPD AKSI Provinsi NTB berharap program MBG ini terus berlanjut dan semakin diperluas hingga menyentuh seluruh pelosok desa, termasuk daerah-daerah terpencil dan terluar, sehingga seluruh anak bangsa dapat merasakan manfaatnya,” pungkas Saurim.
Dukungan dari AKSI NTB ini menjadi sinyal positif bagi implementasi program MBG di daerah. Dengan melibatkan kepala desa sebagai ujung tombak, distribusi makanan bergizi diharapkan bisa lebih tepat sasaran dan menjangkau anak-anak yang paling membutuhkan.