MATARAM — Ekonomi Nusa Tenggara Barat (NTB) menunjukkan tren ekspansi yang kuat pada awal tahun 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) NTB melaporkan pertumbuhan ekonomi daerah ini mencapai 13,64 persen secara tahunan (year-on-year) pada Triwulan I-2026.
Berdasarkan rilis resmi yang diterima Selasa, 5 Mei 2026, nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) NTB atas dasar harga berlaku menyentuh Rp52,62 triliun. Sementara itu, nilai PDRB atas dasar harga konstan 2010 tercatat sebesar Rp29,68 triliun.
Sektor Smelter dan Pertambangan Jadi Motor Utama
Kepala BPS NTB Wahyudin menjelaskan, lonjakan ekonomi ini didorong oleh performa sektor industri pengolahan yang tumbuh 60,25 persen. Aktivitas smelter yang kian meningkat memberikan nilai tambah besar bagi struktur ekonomi di daerah tersebut.
Sektor pertambangan dan penggalian juga mencatatkan pertumbuhan tinggi sebesar 31,80 persen. Kenaikan produksi konsentrat menjadi faktor utama yang mendongkrak kinerja sektor ini sepanjang triwulan pertama.
"Pertumbuhan ekonomi yang kuat ini terutama didorong oleh sektor industri pengolahan seiring meningkatnya aktivitas smelter yang memberikan nilai tambah signifikan terhadap perekonomian daerah," ujar Wahyudin.
Ekspor Komoditas Tambang Melonjak 91 Persen
Dari sisi pengeluaran, kinerja ekspor menjadi mesin penggerak utama dengan kenaikan mencapai 91,87 persen. Angka ini dipicu oleh masifnya pengiriman komoditas tambang dan hasil industri pengolahan ke luar negeri.
Meski tumbuh kuat secara tahunan, ekonomi NTB mengalami kontraksi 1,30 persen jika dibandingkan dengan Triwulan IV-2025 (q-to-q). Penurunan tipis ini dipengaruhi oleh faktor musiman yang biasa terjadi pada sektor industri dan ekspor di awal tahun.
Walau terdapat koreksi triwulanan, tren pertumbuhan tahunan tetap dianggap stabil dan berkelanjutan. Kondisi ini mencerminkan daya tahan ekonomi NTB di tengah fluktuasi pasar komoditas global.
Daya Serap Tenaga Kerja di Sektor Pertanian
Pertumbuhan ekonomi yang pesat mulai berdampak pada kesejahteraan masyarakat. Jumlah penduduk bekerja pada Februari 2026 mencapai 3,14 juta orang, bertambah sekitar 51,20 ribu orang dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masih memegang peran vital sebagai penyerap tenaga kerja terbesar dengan kontribusi 32,86 persen. Peningkatan luas panen dan aktivitas produksi menjadi alasan utama sektor ini tetap dominan.
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di NTB kini berada di level 2,99 persen, menyusut 0,23 persen poin dari tahun sebelumnya. Penurunan ini mengindikasikan bahwa sektor-sektor produktif di NTB semakin optimal dalam menyerap tenaga kerja lokal.
Kualitas ketenagakerjaan juga menunjukkan sinyal positif dengan meningkatnya proporsi pekerja formal menjadi 29,51 persen. BPS mencatat berkurangnya angka setengah pengangguran sebagai tanda semakin efektifnya pemanfaatan tenaga kerja di berbagai lini usaha.