NUSA TENGGARA BARAT — Anak yang tumbuh dengan orang tua serba mengatur sering membawa pola pikir khas hingga dewasa, mulai dari perfeksionisme sampai sulit percaya orang lain. Kenali 9 ciri kepribadiannya agar ibu bisa mengevaluasi pola asuh di rumah sejak sekarang.
Pola asuh membentuk cara anak memandang dirinya dan orang lain. Ketika orang tua terlalu mengatur dan membatasi kebebasan anak, dampaknya bisa melekat sampai usia dewasa.
Banyak anak dari orang tua tipe ini kesulitan menjalin hubungan dengan teman maupun pasangan. Mereka tumbuh dengan kepribadian yang cukup khas, dan sembilan ciri berikut bisa jadi cermin untuk ibu evaluasi.
Anak belajar bahwa tidak ada yang cukup baik kecuali sempurna. Perhatian orang tua pada detail dan harapan yang tidak realistis memengaruhi cara anak menilai dirinya sendiri.
Studi di Journal of Abnormal Child Psychology menemukan perfeksionisme dan kontrol orang tua sering memicu kecemasan pada anak.
Orang tua yang terlalu mengontrol cenderung mengandalkan rasa kendali, bukan membantu anak memahami aturan dan alasan di baliknya. Anak pun belajar bergantung karena takut mengecewakan orang tua.
Yang dicontohkan bukan kasih sayang dan empati, melainkan kekakuan, kekuasaan, dan sikap dingin. Akibatnya kecerdasan emosional anak tidak terlatih.
Anak belajar bagaimana membuat orang tua yang posesif tetap senang, bahkan lewat pengorbanan dan kompromi yang tidak adil. Pola ini terbawa ke hubungan lain saat dewasa.
Studi di Journal of Child and Family Studies tahun 2023 menyebut anak seperti ini mengalami penguasaan lingkungan semata, bukan kedekatan emosional yang sehat.
Penelitian Journal of Abnormal Child Psychology tahun 2019 mengaitkan kehadiran orang tua yang mengatur dengan kecenderungan gangguan kecemasan di kemudian hari.
Anak sering menghadapi respons orang tua yang tak terduga dan sangat emosional. Mereka pun menekan perasaan dan membawa kekhawatiran itu sampai dewasa.
Studi di Journal of Family Theory and Review tahun 2021 menyebut anak dari orang tua terlalu protektif cenderung mengadopsi gaya keterikatan tidak aman. Hubungan baru pun terasa transaksional dan penuh kecemasan.
Mereka juga sering tidak tahu minatnya sendiri. Ujungnya, rasa percaya pada kemampuan dan nilai diri terus tergerus.
American Psychological Association menemukan orang yang terlalu mandiri sering punya pengalaman masa kecil serupa: kebutuhan bergantungnya tidak terpenuhi.
Orang tua mereka gagal memberi dukungan saat dibutuhkan. Kemandirian ekstrem itu jadi tameng, bukan pilihan sehat.
Kebiasaan waspada dan mengontrol muncul lagi saat anak dewasa menjalin hubungan. Kedekatan yang tulus justru terasa asing dan memicu rasa tidak aman.
Tanpa disadari, mereka bisa menjauh atau mencari masalah saat hubungan berjalan baik.
Anak yang tumbuh dalam pengawasan ketat belajar bahwa orang lain sulit diandalkan. Kepercayaan jadi barang mahal, bahkan pada pasangan sendiri.
Perdebatan dengan orang tua biasanya berakhir buruk. Anak pun memilih diam, menghindari konflik, dan menelan ketidaksetujuan demi menjaga kedamaian.
Pola ini membuat mereka sulit menyuarakan batasan pribadi saat dewasa.
Kalau ibu mengenali beberapa ciri di atas pada diri sendiri atau anak, belum tentu ada gangguan. Namun bila kecemasan, perfeksionisme, atau kesulitan percaya sudah mengganggu sekolah, pertemanan, dan kesehatan mental, konsultasi dengan psikolog anak atau keluarga bisa membantu.
Mengubah pola asuh tidak harus drastis. Mulai dari memberi anak ruang memilih hal kecil, mendengarkan emosinya tanpa menghakimi, dan menurunkan tuntutan yang tidak realistis.