MATARAM — Kepala Regional SPPG NTB Eko Prasetyo menyatakan NTB sebenarnya masuk uji coba tahap kedua sistem prasmanan MBG. Meski demikian, pelaksanaan di wilayah ini sudah dimulai di salah satu sekolah dasar di Mataram.
Uji coba berlangsung hingga 6 November mendatang. Setelah periode itu berakhir, hasil pelaksanaan akan dievaluasi sebelum sistem prasmanan diterapkan lebih luas.
Hasil sementara uji coba menunjukkan penurunan sisa makanan atau food waste dibandingkan sistem pelayanan biasa. Penyajian langsung di kelas membuat makanan dikonsumsi dalam kondisi lebih hangat dan segar.
Waktu tunggu antara proses memasak hingga makanan disantap ikut ditekan. Temuan ini menjadi salah satu bahan evaluasi untuk melihat peluang penerapan prasmanan di lebih banyak satuan pelayanan.
"Sebenarnya, NTB itu masuk uji coba tahap kedua, tetapi kita sudah lakukan di salah satu SD di Mataram," kata Eko, Kamis (29/10).
Eko menegaskan penerapan MBG dengan sistem prasmanan di NTB dilakukan secara bertahap. Tidak semua SPPG langsung menerapkan sistem ini karena harus menyiapkan sarana dan prasarana, serta mengantongi izin dari Badan Gizi Nasional.
"SPPG yang berminat menerapkan sistem tersebut harus terlebih dahulu melaporkan rencananya kepada pemerintah pusat untuk mendapatkan surat izin," jelasnya.
Kesiapan sarana dan prasarana menjadi syarat yang perlu dipenuhi sebelum pelayanan prasmanan dijalankan. Penerapan sistem ini juga dikembalikan kepada kelompok penerima manfaat atau satuan pendidikan yang menginginkannya.
Bagi sekolah, pola prasmanan memberi pengalaman edukatif bagi siswa karena makanan disajikan langsung di kelas. Bagi dapur SPPG, perubahan ini menuntut penyesuaian alur penyajian dan peralatan agar makanan tetap terjaga suhunya.
BGN belum memutuskan berapa SPPG di NTB yang akan menerapkan sistem ini setelah evaluasi 6 November. Keputusan itu akan bergantung pada hasil uji coba dan kesiapan masing-masing satuan pelayanan.