NUSA TENGGARA BARAT — Fenomena menahan ponsel lebih lama bukan sekadar tren sesaat. Survei terbaru dari Reviews.org mengungkap rata-rata warga AS memakai smartphone selama 29 bulan, sementara survei Allstate mencatat hampir separuh responden mengaku memakai HP lebih dari tiga tahun. Angka ini kontras dengan kebiasaan upgrade tahunan yang sempat populer di era awal smartphone.
Salah satu contoh nyata adalah pengalaman seorang pengguna iPhone 13 yang membeli perangkatnya pada 2022. Empat tahun berselang, ponsel itu masih dipakai tanpa rencana diganti. "Saya tidak pernah berpikir akan bertahan selama ini, tapi perangkat ini masih bekerja dengan baik," katanya. Kapasitas baterai maksimalnya kini 80 persen, dan ia mengaku jarang mengalami crash atau restart paksa.
Harga flagship terbaru menjadi salah satu alasan utama. iPhone 17 dan Google Pixel 10 dibanderol mulai 799 dolar AS (sekitar Rp 13,2 juta), sementara Samsung Galaxy S26 mulai 899,99 dolar AS (sekitar Rp 14,8 juta). Dengan harga segitu, mempertahankan ponsel yang masih berfungsi terasa lebih masuk akal.
Dukungan software jangka panjang juga memperkuat keputusan ini. Apple misalnya, memberikan update iOS hingga sekitar tujuh tahun untuk model-model tertentu. Artinya, pengguna iPhone 13 masih punya waktu beberapa tahun sebelum dukungan resmi berakhir.
Produsen smartphone gencar mempromosikan fitur kecerdasan buatan (AI) sebagai alasan upgrade. Namun data dari survei CNET 2025 menunjukkan hanya 11 persen pengguna di AS yang mengganti HP karena fitur AI, turun dari 18 persen tahun sebelumnya. Sebaliknya, 29 persen responden mengaku tidak menganggap fitur AI berguna atau bahkan tidak menginginkannya sama sekali — naik dari 25 persen pada 2024.
Bagi sebagian pengguna, fitur seperti pembuatan gambar atau alat tulis berbasis AI justru dianggap sebagai gangguan, bukan nilai tambah. Kekhawatiran terhadap privasi, keamanan data, dan dampak lingkungan dari teknologi AI juga ikut mempengaruhi keputusan untuk tidak upgrade.
Inovasi besar seperti kamera depan, asisten virtual Siri, atau perubahan desain radikal pada iPhone X dulu memang menarik perhatian. Kini, peningkatan dari generasi ke generasi cenderung incremental: chip lebih cepat, kamera sedikit lebih baik. Tidak ada lagi momen "wah" yang cukup kuat untuk mendorong pengguna mengeluarkan uang besar.
Produsen juga mencoba tren ponsel lipat, tapi minat konsumen terhadap kategori ini masih rendah. Ekonomi global yang tidak menentu semakin membuat keputusan upgrade tahunan terasa tidak perlu.
Bagi konsumen Indonesia, pola serupa mulai terlihat. Merek seperti Samsung, Xiaomi, dan Oppo kini menawarkan update software hingga 4-5 tahun untuk model flagship. Ditambah harga HP yang terus naik, keputusan menahan ponsel lebih lama kini bukan lagi soal kebiasaan, melainkan strategi finansial yang cerdas.
Pada akhirnya, ponsel yang masih berfungsi baik, didukung software terbaru, dan tidak menawarkan fitur yang benar-benar revolusioner, membuat siklus upgrade melambat secara alami. Pengguna tidak perlu dipaksa mengganti perangkat hanya karena ada model baru di pasaran.