LOMBOK UTARA — Kepala Dinas Kebudayaan NTB Muhamad Ihwan menyatakan kegiatan itu menyasar generasi muda agar tidak hanya mengenal tradisi, tetapi juga bangga terhadap identitas budaya daerah. Peserta mahasiswa berasal dari Universitas Mataram, Universitas Nahdlatul Wathan, Undikma, Universitas Bumi Gora, UNU NTB, Universitas Muhammadiyah Mataram, Universitas Bima Internasional, dan STKIP Hamzar.
Perkiraan panitia menyebut jumlah mahasiswa yang ikut mencapai sekitar 75 orang. Sisanya berasal dari jajaran organisasi perangkat daerah dan masyarakat setempat, sehingga total peserta sekitar 300 orang berdasarkan data pendaftaran.
Kepala Desa Bayan Satradi menyebut masyarakat selama ini kerap mengidentikkan Bayan hanya dengan Masjid Kuno Bayan Beleq. Padahal desa tersebut menyimpan beragam destinasi budaya dan alam yang saling berkaitan.
"Kami sengaja membuat rute mulai dari Masjid Bayan Kuno, lalu kita ke hutan adat, terus ke Kolam Mandala, dan berakhir di Rumah Adat Bayan Timur," kata Satradi menjelaskan rincian kegiatan.
Selain empat kawasan hutan adat, Bayan juga memiliki sawah terasering, mata air, dan air terjun yang menjadi bagian dari identitas masyarakat yang masih mempertahankan adat istiadat.
Satradi menyebut hutan adat di Desa Bayan memiliki luas sekitar 84 hektare. Kawasan itu menyimpan 37 mata air yang menunjang kehidupan masyarakat sekitar.
Pemerintah desa bersama warga menjaga kelestarian kawasan melalui sejumlah praktik adat. Reboisasi dilakukan setiap tahun, sementara selamatan mata air digelar sembilan kali dalam setahun sebagai bentuk penghormatan terhadap sumber air.
Ihwan menyebut kegiatan Jelajah Bayan merupakan bagian dari upaya mendorong Bayan menjadi situs warisan dunia. Namun upaya itu membutuhkan pengenalan dan pemahaman yang lebih luas terhadap kekayaan budaya setempat.
"Intinya kami ingin mengenalkan sekaligus membuat mahasiswa bangga, kita jangan malu jadi orang Nusa Tenggara Barat. Kita memiliki semuanya di sini, terutama di Bayan," ujar Ihwan, Sabtu, 24 Oktober 2026.
Kepala Bidang Pelindungan dan Pelestarian Dinas Kebudayaan NTB Azizuddin menambahkan, peserta dari kalangan mahasiswa menjadi salah satu kelompok utama dalam kegiatan itu.
Salah seorang peserta dari STKIP Hamzar Lombok Utara, Redi, mengaku memperoleh pemahaman baru tentang aturan adat Bayan. Ia menilai kegiatan tersebut membantunya melihat langsung bagaimana masyarakat menjaga hutan dan tradisi.
"Terkait dengan kegiatan ini menurut kami sangat luar biasa. Kami jadi mengetahui bagaimana awig-awig hutan adat yang ada di Bayan, hukum adatnya, dan peraturan-peraturan yang ada di Bayan ini," ujar Redi kepada NTBSatu.
Redi juga mengapresiasi perhatian masyarakat terhadap kelestarian hutan adat dan keberlanjutan tradisi setempat. Bagi Disbud NTB, tantangan berikutnya ialah memastikan pengetahuan itu tumbuh menjadi kepedulian nyata terhadap pelestarian adat Bayan.