NUSA TENGGARA BARAT — Dalam pertempuran laut modern, kapal perang tidak lagi cukup hanya melacak satu sasaran. Ancaman datang dari berbagai arah dan kecepatan—mulai dari rudal balistik hipersonik seperti Avangard milik Rusia, pesawat nirawak siluman, hingga kawanan drone. Untuk menghadapi situasi ini, Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy) mengandalkan radar AN/SPY-6, sementara sejumlah negara Eropa menggunakan sistem Kronos Grand Naval dan SAMPSON.
Radar AESA bekerja dengan prinsip yang berbeda dari radar mekanis konvensional. Alih-alih memutar antena secara fisik, AESA menggunakan ribuan modul pemancar-penerima (Transmit/Receive Module) kecil yang bisa mengarahkan berkas radar secara elektronik. Proses ini disebut digital beamforming.
Keunggulan utamanya adalah kecepatan dan fleksibilitas. Radar bisa memindai langit dan permukaan laut secara bersamaan, melacak ratusan target dalam hitungan detik, tanpa harus berhenti di satu arah. Sistem AN/SPY-6 buatan Raytheon, misalnya, mampu melacak target hingga jarak lebih dari 250 mil (sekitar 402 km) dan menangani rudal, pesawat, serta drone secara simultan.
AN/SPY-6 disebut juga sebagai Air and Missile Defense Radar (AMDR). Sistem ini menggunakan teknologi Radar Modular Assembly (RMA), di mana beberapa antena radar mandiri dikelompokkan dalam berbagai ukuran sesuai misi kapal. Setiap modul dapat ditambahkan atau dikurangi tanpa mengubah desain kapal secara drastis.
Material semikonduktor gallium nitride (GaN) menjadi bahan baku utama modul ini. Dibandingkan material lama seperti gallium arsenide (GaAs), GaN menghasilkan daya hingga lima kali lebih besar dengan efisiensi energi yang lebih baik. Artinya, radar bisa mendeteksi target lebih kecil dan lebih jauh tanpa membuang banyak listrik.
Sistem ini sudah terpasang di berbagai kapal perang AS, termasuk destroyer kelas Arleigh Burke, kapal amfibi, dan kapal induk bertenaga nuklir seperti USS Gerald R. Ford.
Antena secanggih apapun tidak akan berguna tanpa perangkat lunak yang mampu mengolah data. Di destroyer AS, radar AN/SPY-6 terintegrasi dengan sistem tempur Aegis buatan Lockheed Martin. Sistem ini mengelola data pelacakan dan mengoordinasikan pertahanan rudal serta serangan ofensif.
Sementara itu, kapal induk menggunakan Ship Self-Defense System (SSDS) yang lebih sederhana, karena fokus utamanya adalah perlindungan diri. US Navy juga tengah mengembangkan proyek Overmatch, yang akan menggabungkan data dari berbagai radar dan sumber intelijen lain menjadi satu gambaran global pergerakan musuh.
Radar AESA bukan monopoli AS. Eropa memiliki sistem Kronos Grand Naval buatan Leonardo, yang digunakan oleh Angkatan Laut Prancis dan Italia. Kronos juga menggunakan teknologi AESA dan material GaN, sehingga kemampuannya setara dengan AN/SPY-6.
Inggris mengandalkan radar SAMPSON pada kapal perusak kelas Daring. Radar ini mampu melacak ratusan target dalam radius 250 mil. Di Asia, China memasang radar Type 346 AESA pada destroyer Type 052D, sementara Rusia menggunakan Poliment AESA pada kapal fregat dan destroyer.
Meski teknologi radar militer terkesan jauh dari keseharian, prinsip yang digunakan—seperti beamforming, array modular, dan material GaN—mulai merambah ke perangkat konsumen. Teknologi beamforming digunakan pada router Wi-Fi 6E dan 7 untuk meningkatkan jangkauan dan kecepatan. Material GaN juga mulai digunakan pada charger laptop dan ponsel karena ukurannya lebih kecil dan lebih dingin saat digunakan.
Memahami cara radar AESA bekerja bisa membantu pembaca teknologi melihat bagaimana inovasi militer pada akhirnya menetes ke produk komersial. Dan satu hal yang pasti: kemampuan melacak ratusan target sekaligus bukan lagi kemewahan, melainkan kebutuhan dasar dalam peperangan modern.