NUSA TENGGARA BARAT — Penyelidikan ini bermula dari dua laporan yang masuk ke kepolisian, mencakup dugaan tindak pidana korupsi, suap, dan pencucian uang di tiga BUMN strategis. Dalam penggeledahan yang berlangsung dua hari, aparat menyambangi sejumlah kantor dan kediaman pihak terkait. Yang menarik perhatian, anggota TNI ikut hadir di beberapa lokasi penggeledahan, termasuk di kediaman Febrie Adriansyah di Kramat Pela, Jakarta Selatan.
Kapuspen TNI, Brigjen Muhammad Nas, membantah pengamanan tersebut terkait operasi polisi. "Pengamanan ini tidak berkaitan dengan isu lain yang saat ini berkembang," ujarnya, Kamis (9/7). Ia merujuk pada Perpres Nomor 66 Tahun 2025 tentang perlindungan jaksa dalam melaksanakan tugas.
YLBHI menyatakan "kekhawatiran serius dan mengecam keras" pengerahan militer dalam penyidikan ini. Dalam pernyataan resminya, YLBHI menilai langkah itu membuka jalan bagi militer masuk ke wilayah sipil dan sistem peradilan.
"Peristiwa ini menciptakan preseden bahwa proses hukum tidak dapat menyentuh pejabat negara, sekaligus penegakan hukum dapat diganggu, ditekan, atau dibayang-bayangi oleh kekuatan bersenjata," tulis organisasi tersebut.
Di tengah penggeledahan, publik menyoroti hubungan Febrie Adriansyah dengan sebuah kafe bernama Cafe de'Clan. Namun, polisi enggan mengonfirmasi kepemilikan tempat usaha tersebut. "Silakan tanyakan sama yang tahu... Kalau ada yang mengait-ngaitkan itu, silakan itu di luar dari statement kami," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto.
Nama Febrie sendiri bukan pertama kali mencuat. Pada Maret 2025, sejumlah LSM melaporkannya ke KPK atas dugaan penyalahgunaan wewenang dalam penyidikan empat kasus besar: Jiwasraya, suap Ronald Tannur, tata niaga batubara Kalimantan Timur, dan tindak pidana pencucian uang. "Diduga dilakukan dengan modus operandi memberantas korupsi sembari korupsi," kata Ronald Loblobly, koordinator koalisi LSM pelapor.
Sebelumnya, Febrie juga pernah menjadi korban dugaan penguntitan oleh anggota Densus 88 pada Mei 2024. Anggota polisi militer yang saat itu mendampingi Febrie menangkap personel Densus 88 tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, polisi belum merilis detail barang bukti yang disita maupun nama tersangka. Publik masih menunggu perkembangan lanjutan dari penyelidikan yang melibatkan tiga BUMN besar dan dua institusi keamanan negara ini.