NUSA TENGGARA BARAT — Pulau Gili Iyang di Kecamatan Dungkek, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, dikenal sebagai wilayah dengan kadar oksigen tertinggi di Indonesia dan peringkat kedua dunia setelah Laut Mati. Untuk sampai ke sana, wisatawan menyeberang dari Pelabuhan Dungkek dengan perahu kayu selama 30–45 menit. Reputasi udara bersihnya kini mendorong pengembangan pulau kecil ini sebagai destinasi wellness tourism.
Pulau seluas 921,1 hektare atau sekitar 9 kilometer persegi ini dihuni ribuan jiwa yang tersebar di dua desa utama, Banraas dan Bancamara. Nama Gili Iyang menyimpan beberapa versi asal-usul, dari gabungan kata "Gili" (pulau) dan "Iyang" (sesepuh) hingga sebutan Gili Elang yang berarti pulau yang hilang dalam bahasa Madura.
Permukiman di pulau ini diyakini bermula sejak masa pemerintahan Sultan Abdurrahman (1811–1854), ketika pelaut asal Makassar bernama Daeng Masalle mendarat di pesisir timur. Kini kualitas udaranya yang bersih menjadi alasan utama wisatawan datang.
Mengapa Oksigen di Gili Iyang Disebut Tertinggi di Indonesia
Tingginya konsentrasi oksigen alami di Pulau Gili Iyang berkaitan dengan fenomena sirkulasi udara hasil pertemuan angin Jawa dan angin Kalimantan. Ekosistem mikroorganisme fotosintetik laut di perairan sekitarnya ikut berperan menghasilkan oksigen terlarut tinggi.
Identifikasi ilmiah mencatat 31 genus fitoplankton, terutama dari kelas Bacillariophyceae atau diatom seperti Diploneis, Leptocylindrus, dan Pseudosolenia. Organisme ini aktif berfotosintesis dan menghasilkan kadar oksigen terlarut (DO) 6,15–7,45 mg/L di perairan sekitar pulau.
Dampaknya terlihat pada vitalitas warga. Sebanyak 23,5 persen penduduk Pulau Gili Iyang berusia di atas 80 tahun, sementara separuh populasi mencapai usia di atas 60 tahun.
Catatan Ilmiah: Kadar Oksigen Berubah Seiring Pembangunan
Pengujian awal LAPAN pada 2006 mencatat kadar oksigen ambien berkisar 20,9–21,5 persen. Investigasi Universitas Airlangga pada Mei 2022 menunjukkan konsentrasi oksigen rata-rata turun ke 20,02–20,3 persen dengan kadar karbon dioksida (CO?) rata-rata 475 ppm.
Perubahan indikator gas ini dipengaruhi dinamika pembangunan pulau, antara lain beroperasinya Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) berkapasitas 1,5 MW sejak 2017. Lonjakan jumlah kendaraan bermotor hingga 89 persen sepanjang 2011–2020 juga menjadi faktor.
Spot Unggulan yang Bisa Dikunjungi
- Titik Oksigen di Desa Bancamara: lokasi utama untuk merasakan langsung udara bersih yang menjadi ciri khas pulau.
- Batu Canggah: panorama tebing karang di tepi pulau.
- Gua Mahakarya: gua dengan stalaktit dan stalagmit yang menjadi daya tarik tersendiri.
- Pantai Ropet: titik untuk menikmati matahari terbit.
Cara Menuju Pulau Gili Iyang
Rute termudah adalah menyeberang dari Pelabuhan Dungkek menggunakan perahu kayu atau taksi laut. Waktu tempuh sekitar 30–45 menit. Setibanya di dermaga, wisatawan bisa berkeliling pulau memakai kendaraan ramah lingkungan seperti sepeda listrik, bentor roda tiga Viar modifikasi, hingga mobil golf.
Akomodasi dan Tips Berkunjung
Pulau Gili Iyang menyediakan homestay berkonsep rumah panggung kayu dengan fasilitas pendingin udara dan kamar mandi dalam. Untuk penginapan dan tarif penyeberangan terbaru, wisatawan disarankan mengonfirmasi langsung ke dinas pariwisata setempat atau pengelola homestay.
Karena pulau ini dipromosikan sebagai destinasi wisata kesehatan, pengunjung perlu menikmati terapi udara segar secara wajar. Pemerintah daerah, akademisi, dan masyarakat setempat terus berkolaborasi menjaga kebersihan lingkungan dan menekan emisi kendaraan bermotor di kawasan pesisir.
Alokasikan waktu minimal dua hari satu malam agar tidak terburu-buru mengejar penyeberangan terakhir. Bawa perlengkapan ringan, hormati adat warga dua desa, dan hindari meninggalkan sampah di area tebing maupun gua.