NUSA TENGGARA BARAT — Penjualan motor listrik Indonesia baru 18.900 unit dalam delapan bulan 2026, kurang dari setengah persen dari total pasar motor nasional. Vietnam dengan pasar lebih kecil justru menjual 973.247 unit motor listrik pada periode sembilan bulan, naik 90,5 persen. Ketimpangan ini menempatkan Honda sebagai pihak yang paling disorot.
Direktur Marketing Astra Honda Motor (AHM) Octavianus Dwi Putro menyebut ada lebih dari 30 merek motor listrik yang kini beroperasi di Indonesia, termasuk pemain China dan Polytron. Jumlah pemain tidak berbanding lurus dengan jumlah pembeli.
Data yang dihimpun menunjukkan total distribusi motor ke diler Indonesia pada sembilan bulan pertama 2026 mencapai 5.016.421 unit. Dari jumlah itu, motor listrik yang terjual dalam delapan bulan hanya 18.900 unit.
Rasio nasionalnya kasar: dari sekitar 230 motor baru yang meluncur ke jalan, hanya satu yang bertenaga listrik. Angka ini dihitung dari perbandingan distribusi total dan penjualan motor listrik, meski sumber dan jangka waktunya berbeda.
Vietnam memberi gambaran sebaliknya. Pasar motor di sana lebih kecil, lebih dari 3 juta unit dalam sembilan bulan, tetapi motor listriknya terjual 973.247 unit. Artinya sekitar sepertiga dari seluruh motor baru di Vietnam sudah listrik.
Di Vietnam, Honda masih memimpin dengan penjualan naik 8,4 persen. Namun VinFast tumbuh 152,1 persen dan kini duduk di posisi kedua. Yamaha ketiga, disusul Yadea yang juga pemain listrik. Dari empat besar, dua sudah bertenaga listrik.
Pola itu menunjukkan penantang bisa menggeser juara ketika skalanya cukup besar untuk menjadi nomor dua. Di Indonesia, puluhan merek kecil belum mampu mengubah kebiasaan jutaan pembeli.
Motor listrik domestik sebenarnya pernah mencatat angka lebih tinggi. Pada 2024, saat subsidi masih berjalan, terjual 77.078 unit. Setahun kemudian angkanya turun 28,6 persen menjadi 55.059 unit.
Rencana insentif sekitar Rp 3 juta untuk 2026 belum terealisasi. Nilainya sekitar 11 persen dari harga Honda ICON e: yang Rp 28 juta. Calon pembeli memilih menunda pembelian sampai kepastian insentif keluar.
Kondisi ini membuat pasar motor listrik Indonesia bergantung pada dua hal sekaligus: keberanian pemain besar memindahkan volume ke lini listrik, dan kepastian kebijakan insentif dari pemerintah.