Kacang Mete Songgajah NTB Dilirik Buyer Jepang, Turki, dan Serbia di Trade Expo Indonesia 2026

Penulis: Ridho Pratama  •  Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:16:02 WIB
Produk kacang mete panggang Songgajah asal NTB dipamerkan pada Trade Expo Indonesia 2026 di ICE BSD City, Tangerang.

TANGERANG — Produk kacang mete panggang Songgajah dipamerkan di ajang Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 yang digelar di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Serpong. Keikutsertaan UMKM asal NTB itu merupakan bagian dari program Desa Berdaya Desa Ekspor yang didampingi Disperindag Provinsi NTB.

Program tersebut diarahkan membuka akses pasar lebih luas bagi pelaku usaha daerah. Tujuannya sekaligus memperkuat kesiapan UMKM menembus perdagangan lintas negara.

Cita Rasa Creamy dan Milky Jadi Daya Tarik di Meja Pameran

Keunggulan yang paling menyita perhatian calon mitra adalah cita rasa produk. Kacang mete panggang Songgajah punya karakter creamy dan milky yang dinilai menjadi nilai tambah tersendiri.

Keunikan itu dipakai untuk memperkenalkan potensi komoditas jambu mete NTB ke pasar yang lebih luas. Selain buyer asing, sejumlah perusahaan nasional menunjukkan ketertarikan terhadap pengembangan produk tersebut.

Owner PT Sentra Pangan Songgajah, Tinar Meinati Kusumadewi, menilai keikutsertaan di TEI 2026 bukan sekadar ajang promosi. Menurutnya, pameran ini menjadi ruang membangun kepercayaan dengan calon mitra.

"Bagi kami, TEI bukan hanya kesempatan untuk memperkenalkan produk, tetapi juga ruang untuk membangun kepercayaan dan hubungan bisnis jangka panjang. Kami ingin menunjukkan bahwa produk olahan dari daerah memiliki keunikan dan potensi untuk bersaing di pasar yang lebih luas," ungkap Tinar.

Buyer Serbia Undang Songgajah ke Forum Bisnis di KBRI

Peluang kerja sama terbuka setelah buyer asal Serbia mengundang Tinar bersama Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri Disperindag NTB. Undangan itu untuk bersilaturahmi sekaligus menghadiri forum bisnis antara buyer Serbia dan UMKM Indonesia.

Forum tersebut difasilitasi Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Serbia. Pertemuan menjadi ruang mempererat komunikasi, membangun relasi, dan menjajaki kolaborasi bisnis lanjutan.

Meski begitu, peluang yang muncul selama pameran masih perlu ditindaklanjuti. Komunikasi intensif, pemenuhan kebutuhan calon buyer, dan pembahasan skema kerja sama yang sesuai menjadi langkah berikutnya.

Tiga Kementerian Berkunjung ke Stan, Soroti Nilai Tambah UMKM

Selama pameran, stan Songgajah menerima kunjungan perwakilan Kementerian Perdagangan RI, Kementerian Perindustrian RI, dan Kementerian Desa RI. Kunjungan itu dimanfaatkan memperkenalkan produk unggulan daerah.

Songgajah juga menunjukkan potensi UMKM dalam menciptakan nilai tambah dari komoditas lokal. Bagi perusahaan, hal itu menjadi bukti bahwa pengolahan di tingkat daerah bisa mendorong nilai ekonomi jambu mete.

Tinar menyampaikan apresiasi kepada Gubernur NTB H. L. Muhammad Iqbal, Kepala Disperindag NTB, Kepala Bidang Pengembangan Perdagangan Luar Negeri Dr. Hj. Aryanti Dwiyani, serta seluruh tim pendamping. Dukungan itu dinilai berperan mempertemukan pelaku usaha dengan calon buyer dan membuka jaringan bisnis baru.

Target Berikutnya: Kemitraan Konkret, Bukan Sekadar Ketertarikan

Ketertarikan calon buyer dari berbagai negara dianggap sebagai peluang yang harus dikembangkan menjadi kemitraan konkret dan berkelanjutan. Songgajah akan memperkuat kualitas produk serta menindaklanjuti komunikasi bisnis yang terbangun selama pameran.

Di luar pemasaran kacang mete panggang, perusahaan membawa semangat pemberdayaan petani dan masyarakat lokal. Perluasan pasar diharapkan meningkatkan nilai tambah komoditas jambu mete sekaligus membuka peluang ekonomi lebih besar bagi masyarakat di daerah asalnya.

Dari NTB, Songgajah melangkah memperkenalkan cita rasa khas daerah ke pasar nasional dan internasional. Harapannya, produk lokal mampu tumbuh menjadi bagian dari perdagangan global.

Reporter: Ridho Pratama
Sumber: samawarea.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top