Kebakaran Hutan di Dekat Venue COP31 Turki Picu Desakan Hentikan Bahan Bakar Fosil

Penulis: Taufik Rahman  •  Sabtu, 03 Oktober 2026 | 08:49:01 WIB
Kebakaran hutan dan lahan melanda kawasan Aksu, Antalya, beberapa kilometer dari lokasi COP31.

NUSA TENGGARA BARAT — Organisasi iklim 350 Turki mendesak transisi energi dipercepat setelah kebakaran hutan dan lahan melanda Aksu, Antalya, hanya beberapa kilometer dari lokasi Konferensi Para Pihak ke-31 (COP31) yang akan digelar November mendatang. Desakan itu muncul karena Turki sebagai tuan rumah COP31 dinilai punya kesempatan menunjukkan kepemimpinan iklim yang nyata. Jika tidak ada tindakan konkret, krisis iklim dikhawatirkan terus memakan korban dan merusak permukiman warga.

Paragraf pembuka: Juru Kampanye 350 Turki, Ege Tok, menyebut insiden kebakaran di Antalya sebagai bukti bahwa krisis iklim sudah membakar rumah warga. Pemerintah Turki diminta menyusun rencana nyata menghentikan penggunaan batu bara, minyak, dan gas, bukan sekadar janji di forum internasional.

Antalya Jadi Sorotan Jelang COP31

Kebakaran di Aksu, Antalya, berada dalam jarak beberapa kilometer dari venue COP31. Posisi geografis itu membuat insiden tersebut sulit dipisahkan dari agenda konferensi yang akan digelar November mendatang.

Menurut Ege, Turki memegang peran penting sebagai tuan rumah sekaligus bagian dari Kepresidenan COP31. Posisi itu dinilai bisa menjadi panggung bagi Ankara untuk mendorong negara-negara lain menempuh aksi iklim yang lebih kuat.

"Krisis iklim membakar rumah kita dan penyebab sebenarnya adalah bahan bakar fosil," ujar Ege dalam keterangan resmi, dikutip pada Jumat (2/10).

Tuntutan Konkret untuk Turki

350 Turki tidak hanya menuntut pernyataan sikap. Organisasi itu mendesak adanya jadwal konkret penghapusan bahan bakar fosil, dimulai dari batu bara.

Transisi menuju energi terbarukan juga harus berjalan adil dan teratur. Artinya, pekerja dan masyarakat yang selama ini bergantung pada industri fosil tidak boleh ditinggalkan begitu saja.

Penguatan kebijakan perlindungan masyarakat menjadi bagian lain dari tuntutan tersebut. Ege berharap dampak krisis iklim yang kian nyata mendorong tindakan penanggulangan yang serius.

"Turki harus memastikan bahwa konferensi tingkat tinggi ini akan menghasilkan tindakan nyata yang akan membuka jalan bagi transisi cepat dan adil dari batu bara, minyak, dan gas," ujarnya.

146 Kebakaran Hutan dalam Delapan Hari

Data Direktorat Jenderal Kehutanan Turki mencatat 146 insiden kebakaran hutan dan 260 kebakaran non-hutan pada delapan hari pertama September 2026. Kebakaran melanda Antalya, Mugla, dan Adana.

Otoritas kehutanan menilai risiko kebakaran masih tinggi meski musim panas berangsur berakhir. Cuaca kering dan angin kencang disebut menjadi pemicu utama.

"Meskipun musim gugur telah tiba, risiko kebakaran tetap ada karena suhu tinggi dan vegetasi mengering," demikian dikutip dari laman resmi Direktorat Jenderal Kehutanan Turki.

Kesempatan Kepemimpinan di COP31

350 Turki menempatkan transisi energi sebagai pusat agenda COP31. Kepresidenan konferensi dinilai menjadi kesempatan bagi Turki untuk menunjukkan kepemimpinan yang dapat mengarahkan negara lain menuju aksi iklim lebih kuat.

Desakan serupa menguat di banyak negara, termasuk Indonesia yang tengah mendorong bauran energi terbarukan dan mengurangi ketergantungan pada batu bara. Tekanan publik terhadap pemerintah untuk mempercepat transisi biasanya meningkat setiap kali bencana iklim terjadi.

Penutup: Kebakaran di Antalya menjadi pengingat bahwa jarak antara forum negosiasi iklim dan dampak nyata di lapangan bisa sangat tipis. Bagi Turki, COP31 November mendatang akan menjadi ujian apakah kepemimpinan iklim yang dijanjikan diterjemahkan menjadi kebijakan yang mengikat.

Reporter: Taufik Rahman
Sumber: katadata.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top