NUSA TENGGARA BARAT — Data Kementerian Perdagangan menunjukkan surplus perdagangan nonmigas mencapai USD 19,35 miliar pada paruh pertama 2026, mampu mengkompensasi defisit sektor migas yang mencapai USD 15,77 miliar. Pada Juni 2026, ekspor nonmigas tercatat USD 24,39 miliar, naik 8,68 persen dibandingkan bulan sebelumnya dan tumbuh 9,46 persen secara tahunan.
Menteri Perdagangan Budi Santoso menegaskan penguatan ekspor nonmigas menjadi bukti daya saing produk Indonesia tetap terjaga. "Pemerintah akan terus memperluas akses pasar, memperkuat promosi dagang, serta mengoptimalkan berbagai perjanjian perdagangan agar kinerja ekspor terus meningkat," ujarnya dalam keterangan resmi di laman kemendag.go.id.
Sepanjang Januari–Juni 2026, ekspor nasional mencapai USD 140,81 miliar atau meningkat 4,13 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sektor industri pengolahan mendominasi dengan kontribusi 82,02 persen dari total ekspor, diikuti pertambangan dan lainnya sebesar 11,71 persen, migas 4,43 persen, serta pertanian 1,84 persen.
Menariknya, industri pengolahan menjadi satu-satunya sektor yang mencatat pertumbuhan positif. Nilai ekspornya naik dari USD 107,57 miliar menjadi USD 115,50 miliar. Sebaliknya, tiga sektor lain mengalami kontraksi, dengan pertanian terkoreksi paling dalam hingga 22,55 persen, disusul migas minus 10,11 persen, dan pertambangan yang menyusut 5,12 persen.
Pertumbuhan ekspor nonmigas tertinggi pada Semester I 2026 justru datang dari komoditas bernilai tambah tinggi. Ekspor aluminium dan barang daripadanya (HS 76) melonjak 73,93 persen, sementara nikel dan barang daripadanya (HS 75) tumbuh 62,27 persen secara tahunan. Bahan kimia organik (HS 29) naik 31,93 persen dan tembaga (HS 74) menguat 29,03 persen.
Dari sisi mitra dagang, Tiongkok masih menjadi tujuan utama ekspor nonmigas dengan nilai USD 34,56 miliar atau 25,68 persen dari total. Amerika Serikat menyusul dengan USD 15,82 miliar dan India USD 9,25 miliar. Ketiga negara tersebut menyerap 44,31 persen total ekspor nonmigas Indonesia.
Pertumbuhan ekspor ke sejumlah kawasan juga menunjukkan akselerasi. Hongkong mencatat lonjakan 39,12 persen, disusul Kamboja 31,42 persen, dan Thailand 19,35 persen. Kawasan Asia Tengah, Asia Timur, Afrika Barat, Eropa Timur, dan Afrika Selatan turut menunjukkan performa positif yang kuat selama periode tersebut.
Pada Juni 2026, neraca perdagangan total mencatat defisit USD 450 juta. Namun, defisit ini relatif tipis karena surplus nonmigas sebesar USD 3,04 miliar mampu menahan defisit migas yang mencapai USD 3,49 miliar. Ekspor Juni sendiri tumbuh 9,72 persen dibandingkan bulan sebelumnya dan naik 8,84 persen secara tahunan menjadi USD 25,46 miliar.
Dari sisi komoditas penyumbang surplus, lemak dan minyak hewani/nabati (HS 15) menjadi yang terbesar dengan nilai USD 17,55 miliar, diikuti bahan bakar mineral (HS 27) sebesar USD 13,61 miliar serta besi dan baja (HS 72) sebesar USD 8,61 miliar. Amerika Serikat menjadi penyumbang surplus nonmigas terbesar dengan USD 10,44 miliar, diikuti India USD 6,73 miliar dan Filipina USD 4,02 miliar.
Budi Santoso menilai pertumbuhan ekspor pada Juni menjadi sinyal positif memasuki semester kedua 2026. Capaian ini menunjukkan produk Indonesia masih mampu menjaga daya saing di pasar internasional di tengah dinamika ekonomi global yang penuh ketidakpastian.