NUSA TENGGARA BARAT — Ledakan adopsi kendaraan listrik di Tanah Air bukan sekadar tren, melainkan sudah menjadi fakta yang tercatat secara resmi. Data terbaru Kemenperin yang dipaparkan dalam Seminar GIIAS 2026 di ICE BSD City, Tangerang, Selasa (5/8), menunjukkan pertumbuhan populasi kendaraan elektrifikasi yang tidak pernah terjadi sebelumnya dalam enam tahun terakhir.
Feby Setyo Hariyono, Sekretaris Ditjen ILMATE Kemenperin, mengungkapkan bahwa pertumbuhan ini utamanya didorong oleh dua segmen kendaraan. "Pertumbuhan ini didorong utamanya oleh kendaraan listrik roda dua yang telah mencapai 242 ribu unit dan kendaraan penumpang roda empat sebanyak 223 ribu unit," jelasnya di hadapan para pelaku industri.
Kedua segmen tersebut dinilai menjadi kontributor utama dalam percepatan adopsi kendaraan listrik nasional. Angka ini juga menegaskan bahwa program pemerintah untuk menekan emisi karbon mulai menunjukkan hasil nyata di lapangan, bukan hanya wacana.
Dampak dari pertumbuhan populasi ini langsung terlihat pada komposisi pasar otomotif nasional. Pangsa pasar mobil listrik murni (BEV) mengalami lompatan signifikan dari 0,99 persen pada 2022 menjadi 16,06 persen per Juni 2026. Kenaikan serupa juga dialami kendaraan hybrid (HEV) yang tumbuh dari 0,49 persen ke angka 9,26 persen pada periode yang sama.
Fenomena ini perlahan menggeser dominasi kendaraan bermesin bensin (ICE) di pasar domestik. Konsumen Indonesia kini semakin berani beralih ke teknologi elektrifikasi, seiring dengan semakin banyaknya pilihan model yang tersedia di pasar.
Keberhasilan ini tidak lepas dari kombinasi kebijakan pemerintah dan respons positif industri. "Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa kebijakan pengembangan industri LCEV beserta dukungan insentif pemerintah ini telah mampu mendorong percepatan adopsi kendaraan elektrifikasi di Indonesia," ungkap Feby.
Setidaknya ada tiga faktor utama yang mendorong lonjakan ini. Pertama, pemberian insentif yang menarik bagi konsumen. Kedua, masuknya investasi baru dari berbagai pabrikan yang membangun fasilitas produksi di dalam negeri. Ketiga, pengembangan ekosistem industri EV yang semakin matang, termasuk infrastruktur pendukung dan rantai pasok lokal.
Dengan tren yang terus positif ini, pemerintah optimistis Indonesia memiliki modal kuat untuk mempercepat transisi ke transportasi hijau. Industri otomotif nasional juga dinilai semakin kompetitif, baik di pasar domestik maupun kancah global.