LOMBOK TIMUR — Bupati Lombok Timur H. Haerul Warisin mendampingi langsung para menteri saat meninjau lokasi yang akan menjadi pusat aktivitas nelayan tersebut. Dalam kunjungan itu, pemerintah memastikan tambahan armada tangkap untuk nelayan setempat bertambah signifikan dari rencana awal.
“Alhamdulillah, Kemenko Pangan dan KKP menyaksikan langsung kondisi di lapangan. Janji awal bantuan 10 unit kapal kini ditambah menjadi 50 unit kapal tangkap. Ini tentu akan sangat memaksimalkan kapasitas tangkap nelayan kita,” ungkap Haerul Warisin di lokasi.
Menko Pangan menyoroti akar masalah yang selama ini membuat nelayan Ekas terus terlilit utang. Tanpa sarana pendingin yang memadai, hasil tangkapan cepat membusuk sehingga nelayan terpaksa menjual dengan harga murah kepada tengkulak.
“Kita ingin memutus pola lama ini. Nelayan kita harus senang, makmur, dan terhormat di negerinya sendiri. Jika pemerintah tidak hadir dan peduli, maka yang makmur justru nelayan asing, sementara kawasan pantai kita dikuasai mereka,” ujar Zulkifli Hasan.
KKP menjadwalkan KNMP mulai beroperasi pada Desember mendatang. Fasilitas yang disiapkan tidak hanya pabrik es dan gudang beku (cold storage), tetapi juga tempat lelang ikan terintegrasi, Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN), bengkel kapal, tambatan perahu, hingga area budidaya lele.
Setelah Ekas, pemerintah kabupaten berencana memperluas program ini ke wilayah lain. Bupati Haerul Warisin mengungkapkan bahwa dari lima titik yang diusulkan, empat di antaranya telah mendapat persetujuan dari pemerintah pusat.
“Kami sudah mengusulkan lima titik lokasi baru untuk KNMP di Lombok Timur. Informasi terakhir, empat titik di antaranya sudah disetujui oleh pusat,” jelasnya.
Selain itu, Pemkab Lombok Timur juga merespons persoalan sampah di kawasan perairan Jerowaru dengan mengarahkan pembuangan sampah sementara ke TPA Pijot yang telah dilengkapi 18 armada pengangkut.
Warisin optimistis hadirnya cold storage, pabrik es, dan perbaikan armada tangkap mampu menstabilkan harga ikan saat musim panen raya. Dengan begitu, nelayan lokal tidak lagi kalah bersaing dengan nelayan asing dari Vietnam, Thailand, maupun Tiongkok yang selama ini dianggap menguasai kawasan pantai.