MATARAM — Kekhawatiran warga Kota Mataram terkait kualitas minyak goreng subsidi merek MinyaKita langsung direspons cepat oleh pemerintah daerah. Disdag bersama TPID dan Polresta Mataram berencana melakukan sidak ke Gudang Bulog di Dasan Cermen dalam waktu dekat.
Kepala Bidang Barang Pokok dan Penting (Bapokting) Disdag Kota Mataram, Sri Wahyunida, menegaskan bahwa hingga saat ini belum ditemukan produk MinyaKita yang bermasalah di Kota Mataram maupun wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB).
Nida menjelaskan, pasokan MinyaKita untuk NTB berasal dari tiga produsen di Jawa Timur, yaitu Mahesti, Smart, dan Wilmar. Produsen ini berbeda dengan pemasok produk yang menjadi sorotan di Jawa Tengah.
“Untuk wilayah NTB, termasuk Kota Mataram, pasokan MinyaKita berasal dari tiga produsen, yaitu Mahesti, Smart, dan Wilmar yang berada di Jawa Timur,” ujarnya.
Berdasarkan koordinasi dengan Perum Bulog, aroma tidak sedap yang ditemukan pada MinyaKita di Jawa Tengah diduga berasal dari wadah atau tangki pengangkut, bukan dari campuran oli atau solar seperti yang ramai diperbincangkan. Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) masih melakukan uji laboratorium untuk memastikan penyebab pastinya.
“Sidak ini dilakukan agar masyarakat mendapatkan kepastian bahwa MinyaKita yang beredar di Kota Mataram aman,” kata Nida.
Dengan stok sekitar 24.000 liter yang tersedia, Disdag memprioritaskan penyaluran MinyaKita melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) atau operasi pasar ke Pasar Kebon Roek dan Pasar Mandalika. Saat ini kuota yang tersedia masih terbatas.
Disdag telah mengajukan penambahan pasokan melalui mekanisme purchase order (PO). Jika kuota tambahan disetujui, distribusi MinyaKita akan diperluas ke pasar-pasar tradisional lainnya di Kota Mataram.