NUSA TENGGARA BARAT — Korea Selatan hanya mampu mengemas satu kemenangan dan dua kekalahan di Grup A, finis di bawah Meksiko (peringkat 15 FIFA) dan Afrika Selatan (peringkat 60). Satu-satunya kemenangan diraih atas lawan yang tak disebutkan, sementara kekalahan 1-0 dari Afrika Selatan pada laga terakhir Kamis (29/5) menjadi pukulan telak. Dengan rapor ini, tim berperingkat 32 FIFA itu harus puas menempati posisi ketiga grup.
Meski hanya finis ketiga, regulasi baru Piala Dunia dengan 48 tim memberi celah: delapan peringkat ketiga terbaik tetap bisa lolos. Korea Selatan masih berharap hingga Sabtu (31/5), saat hasil pertandingan grup lain memastikan mereka tersingkir. Harapan yang sempat menggantung itu runtuh total, memicu gelombang kritik domestik yang luar biasa.
Suporter fanatik, Red Devils, bahkan mengeluarkan pernyataan keras pada Senin (2/6) menuntut Hong "berlutut di depan seluruh bangsa dan meninggalkan dunia sepak bola selamanya". Ancaman pembunuhan terhadap Hong saat kembali ke Korea pun dilaporkan, dengan polisi meningkatkan pengamanan di Bandara Incheon.
Keputusan Hong mundur tidaklah mengejutkan. Penunjukannya sebagai pelatih pada 2024 telah menuai protes keras sejak awal. Banyak penggemar menuding Asosiasi Sepak Bola Korea (KFA) memilih Hong karena koneksi pribadi, bukan kompetensi—mengabaikan kandidat asing yang telah melalui proses seleksi ketat.
Hong sendiri mengakui bahwa "menerima pekerjaan ini bukanlah pilihan yang mudah". Dalam konferensi pers, ia menyatakan, "Saya tidak bisa mengatakan setiap keputusan adalah yang benar, tapi saya bisa mengatakan setiap keputusan saya ambil demi sepak bola Korea."
Presiden Lee Jae Myung, dalam unggahan di X, tidak menyembunyikan kekecewaannya. Ia menyebut kegagalan ini "bukan sekadar kebingungan, melainkan kebingungan total". Kritik paling tajamnya: "Ketika pilih kasih dan kronisme lebih diutamakan daripada kompetensi dalam memilih komandan, hasilnya dapat diprediksi seperti api membakar kertas."
Hong, yang pernah menjadi kapten tim saat Korea Selatan mencapai semifinal Piala Dunia 2002, sebelumnya juga gagal sebagai pelatih di Piala Dunia 2014 tanpa meraih satu kemenangan pun. Kini, ia meninggalkan tim nasional dengan janji akan terus mendukung dari luar. "Saya akan bersorak untuk tim nasional dengan sepenuh hati," ujarnya.