NUSA TENGGARA BARAT — Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, mengumumkan bahwa realisasi pengadaan gabah dan beras dalam negeri telah menembus 3,01 juta ton setara beras hingga awal Juni 2026. Angka ini setara dengan tiga perempat dari target nasional sebesar 4 juta ton yang ditetapkan pemerintah untuk tahun ini.
"Ini menjadi tonggak penting dalam sejarah pengadaan pangan nasional," ujar Rizal dalam pernyataan resmi yang dikutip Kamis (4/6/2026).
Keberhasilan serapan ini berdampak langsung pada penguatan Cadangan Beras Pemerintah (CBP). Bulog melaporkan stok beras yang dikelola kini telah melampaui 5 juta ton, menjadikannya level tertinggi dalam sejarah modern pengelolaan pangan nasional.
Dengan stok sebesar itu, Bulog memiliki jaminan ketersediaan pangan yang kuat. Cadangan ini akan digunakan untuk berbagai keperluan, mulai dari operasi pasar untuk stabilisasi harga, penyaluran bantuan pangan, hingga antisipasi potensi bencana dan gejolak pasar.
Rizal menegaskan capaian monumental ini bukan kerja satu pihak. Ia menyebut keberhasilan tersebut merupakan hasil kolaborasi seluruh pemangku kepentingan: petani, pemerintah pusat dan daerah, TNI, Polri, penyuluh pertanian, penggilingan padi, hingga seluruh insan Bulog yang bekerja tanpa mengenal waktu selama musim panen.
"Ini menunjukkan negara hadir secara nyata untuk memastikan hasil panen petani terserap dengan baik sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional," tuturnya.
Dengan realisasi yang sudah mencapai 75 persen dalam waktu kurang dari enam bulan, Bulog optimistis target pengadaan empat juta ton setara beras pada 2026 dapat tercapai bahkan sebelum akhir tahun. Pencapaian ini sekaligus menjadi indikator bahwa ekosistem pengadaan pangan dalam negeri semakin solid dalam menjaga keseimbangan antara perlindungan petani dan stabilitas harga pangan nasional.