LOMBOK BARAT — Garis pantai di kawasan Jeranjang yang selama ini menjadi pemasok biomassa untuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) setempat, kini berubah fungsi menjadi lokasi rehabilitasi ekosistem. PLN EPI menggandeng Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTB, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), dan komunitas pesisir untuk menanam ribuan bibit cemara udang, Selasa (12/5/2026).
Kegiatan bertajuk MenEPI untuk Bumi 2026 ini digelar bertepatan dengan peringatan Hari Keanekaragaman Hayati. Sekretaris Perusahaan PLN EPI Mamit Setiawan menyebut lokasi ini dipilih bukan tanpa alasan.
"Jeranjang memiliki posisi strategis dalam rantai pasok energi primer nasional. Kami memasok biomassa untuk PLTU Jeranjang yang menopang sekitar 20 persen kebutuhan listrik Pulau Lombok," ujar Mamit.
Pohon cemara udang, menurut Mamit, dipilih karena sistem perakarannya yang kuat. Tanaman ini mampu menahan laju abrasi, meredam terpaan angin pesisir, dan memperkuat ketahanan pantai terhadap gelombang laut. Langkah ini menjadi bentuk tanggung jawab perusahaan atas keberadaan infrastruktur energi di wilayah pesisir.
"Energi primer yang kami hadirkan tidak boleh mengorbankan kehidupan alam. Kami ingin mengembalikan manfaat kepada kawasan pesisir," tegasnya.
Camat Gerung, Fitriati Wahyuni, mengungkapkan bahwa abrasi di Pantai Induk Lombok dalam beberapa tahun terakhir sudah sangat mengkhawatirkan. Garis pantai terus mundur hingga mendekati permukiman warga.
"Dulu pantai ini jadi tujuan wisata utama masyarakat Gerung dan Lombok Barat. Sekarang aktivitas wisatanya menurun drastis karena abrasi," kata Fitriati.
Ia menilai, penanaman pohon ini menjadi langkah awal untuk menghidupkan kembali kawasan tersebut. Jika pantai pulih, sektor pariwisata bisa bangkit dan UMKM di sekitar lokasi ikut bergerak.
Ketua Pokdarwis Desa Taman Ayu, Sahlandi, menyambut baik program ini. Menurutnya, abrasi selama ini menjadi momok bagi warga pesisir yang menggantungkan hidup pada sektor wisata.
"Kami sangat bersyukur. Setidaknya penanaman ini bisa membantu mengurangi abrasi di Pantai Induk Lombok," ujar Sahlandi.
Ia berharap pemulihan kawasan pesisir berdampak langsung pada peningkatan kunjungan wisatawan. "Ke depan, Pantai Induk Lombok bisa semakin ramai lagi. Manfaat ekonominya juga dirasakan masyarakat," harapnya.
Kepala BLUD Balai Pengelolaan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Wilayah Lombok, Abdul Wahab, menekankan pentingnya kolaborasi lintas pihak. Di tengah keterbatasan anggaran pemerintah daerah, keterlibatan korporasi seperti PLN EPI menjadi penyelamat bagi program konservasi pesisir.
"Kami sangat mengapresiasi dukungan ini. Program seperti ini penting untuk menjaga keberlanjutan sumber daya kelautan dan perikanan bagi generasi mendatang," kata Abdul Wahab.
Program MenEPI untuk Bumi 2026 merupakan bagian dari komitmen PLN EPI mengintegrasikan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) ke seluruh lini operasional. Perusahaan menegaskan bahwa ketahanan energi dan kelestarian lingkungan harus berjalan beriringan.