LOMBOK UTARA — Tujuh kebiasaan yang dimaksud meliputi bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, serta tidur cepat. Sinta menilai kebiasaan sederhana itu menjadi bagian dari kesiapan anak menghadapi masa depan.
Menurutnya, kesehatan fisik perlu berjalan bersama kematangan diri dan kemampuan belajar. Dengan begitu, anak punya bekal cukup untuk mengejar cita-citanya.
Sinta menekankan agar para santri menjalankan kebiasaan tersebut secara konsisten. Ia menyampaikan pesan itu langsung di hadapan santri Pondok Pesantren As-Sa'idiyah Penjalin.
"Tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat ini tolong dijalankan dengan baik. Kalau itu dijalankan dengan baik, maka masa depan kalian insyaAllah akan semakin baik lagi," ujarnya.
Kegiatan GERMAS NTB di pesantren itu melibatkan Dinas Kesehatan NTB, TP PKK NTB, TP PKK Lombok Utara, dan Dinas Kesehatan Lombok Utara.
Sinta juga mengingatkan para santri agar tidak menjalani persoalan secara sendiri-sendiri. Kepedulian terhadap teman sebaya dinilai penting untuk mendeteksi perubahan perilaku sekaligus mencegah anak terjerumus pada kegiatan negatif.
Ia meminta para santri saling memperhatikan dan tidak ragu bertanya ketika melihat perubahan sikap pada teman.
"Kalian harus saling mengatensi, saling memperhatikan satu sama lain. Kalau ada teman yang terlihat mengalami perubahan sikap, tolong ditanya," tuturnya.
Kepedulian itu dinilai penting karena tidak semua anak mampu mengungkapkan persoalan yang sedang dihadapi. Perasaan sendiri, tidak memiliki tempat berbagi, atau kesulitan menyampaikan masalah dapat membuat anak rentan mengambil pilihan yang tidak baik.
Perhatian khusus diberikan kepada para santriwati melalui edukasi mengenai pentingnya konsumsi tablet tambah darah secara teratur untuk mencegah anemia. Sinta mengingatkan bahwa menjaga kesehatan sejak remaja merupakan investasi bagi kesehatan perempuan ketika kelak memasuki kehidupan berkeluarga.
"Tablet ini harus rutin diminum supaya kelak saat kalian siap menjadi seorang ibu, kondisi tubuh sudah kuat dan sehat. Jika calon-calon ibu ini sehat, insyaAllah akan melahirkan generasi penerus yang sehat pula," katanya.
Kegiatan tersebut juga diisi pembagian tablet tambah darah bagi santriwati, edukasi pencegahan perkawinan anak oleh Duta GenRe, serta penyuluhan pencegahan kanker pada remaja oleh dr. Kadek Adiwiguna dari Yayasan Kanker NTB.
Ketua Yayasan Pondok Pesantren As-Sa'idiyah Penjalin, TGH. Miftahuddin, M.Pd.I., menyambut baik kegiatan tersebut. Ia menilai menjaga kesehatan merupakan amanah yang harus dipertanggungjawabkan.
Pihak pesantren juga berkomitmen menyiapkan Pos Kesehatan Pesantren (Poskestren) sebagai bagian dari penguatan layanan kesehatan bagi para santri.
Dari lingkungan pesantren, pesan GERMAS menjadi lebih luas dari sekadar ajakan menjaga kesehatan. Generasi sehat dibentuk melalui kebiasaan yang dilakukan setiap hari, kepedulian terhadap sesama, dan kesiapan menghadapi masa depan.