NUSA TENGGARA BARAT — Pencapaian ini menunjukkan strategi BRI dalam memperkuat fundamental pendanaan di tengah persaingan industri perbankan yang ketat. Dengan dominasi CASA, beban bunga yang harus ditanggung perseroan menjadi lebih efisien, sehingga ruang untuk menyalurkan kredit dengan bunga kompetitif semakin terbuka.
Direktur Network & Retail Funding BRI, Aquarius Rudianto, menegaskan bahwa transformasi bisnis perseroan memang diarahkan untuk memperkuat lini pendanaan ritel. Fokus utamanya adalah menjadikan BRI relevan dalam setiap aktivitas keuangan harian masyarakat.
"Salah satu fokus utama transformasi BRI adalah memperkuat funding franchise, khususnya dana murah atau CASA. Strategi kami dilakukan dengan memperkuat transaksi dan menjadikan BRI semakin relevan dalam aktivitas keuangan sehari-hari nasabah," ujar Aquarius.
Super apps BRImo menjadi salah satu motor utama pertumbuhan CASA perseroan. Hingga akhir triwulan II-2026, pengguna aktif platform ini mencapai 22,3 juta orang. Jumlah transaksi finansialnya pun mencengangkan, menembus 3,3 miliar transaksi dengan volume mencapai Rp4.166 triliun.
Lonjakan aktivitas digital ini bukan sekadar angka. Aliran transaksi tersebut mulai berkontribusi nyata terhadap pendapatan bunga (funding) dan pendapatan berbasis biaya (fee based income) BRI. Artinya, perbankan tidak lagi sekadar mengandalkan selisih bunga, tetapi juga dari ekosistem transaksi yang terbentuk.
Selain kanal digital, jaringan agen BRILink yang tersebar hingga ke pelosok desa juga menunjukkan peran strategisnya. Melalui skema kemitraan ini, BRI berhasil mencatatkan pertumbuhan CASA sebesar 28,6 persen menjadi Rp30,7 triliun.
Lebih menarik lagi, lini bisnis ini turut mendongkrak pendapatan komisi. Fee income dari segmen BRILink tumbuh 16,3 persen menjadi sekitar Rp915,7 miliar. Angka ini membuktikan bahwa model bisnis hybrid—menggabungkan layanan digital dan sentuhan fisik agen—masih efektif menjaring nasabah di berbagai lapisan.
Dengan struktur dana yang semakin murah dan basis transaksi yang terus menguat, BRI berada di posisi yang lebih solid untuk menjaga profitabilitas. Apalagi, tekanan terhadap likuiditas perbankan nasional masih akan berlanjut seiring dengan dinamika suku bunga acuan dan kebutuhan pembiayaan pemerintah.
Ketahanan pendanaan ini menjadi modal utama bagi BRI untuk terus menyalurkan kredit ke sektor produktif, terutama segmen mikro dan UMKM yang selama ini menjadi tulang punggung bisnis perseroan. Dengan biaya dana yang efisien, bank pelat merah ini dapat menawarkan suku bunga kredit yang lebih bersahabat bagi jutaan pelaku usaha kecil di Indonesia.